Sulawesi Tenggara

Semakin tidak menentunya pola cuaca di Sulawesi Tenggara telah berdampak signifikan terhadap ekonomi dan mata pencaharian lokal. Kekeringan yang berkepanjangan telah berdampak pada irigasi pertanian, meningkatnya risiko kebakaran hutan, dan berkurangnya produksi pakan ternak. Banyak petani yang kini panen hanya satu bukannya dua jenis tanaman per tahunnya, hasil ternak juga berkurang karena turunnya produksi pakan ternak. Nelayan lokal dan petani rumput laut juga tidak luput dari dampak tren iklim dengan meningkatnya temperatur laut dan polusi di pesisir yang mengharuskan mereka melaut lebih jauh ke laut dalam, berkurangnya hasil dan kualitas ikan tangkap per tahun. Petani rumput laut juga beralih ke varietas lain yang menyebabkan harga pasar menjadi turun. Berbagai tekanan tersebut memaksa nelayan untuk menggunakan peralatan yang lebih canggih dan petani rumput laut harus memperluas area produksi mereka dan terkadang mengorbankan padang lamun serta terumbu karang yang dibutuhkan dalam produksi perikanan. Di darat, deforestasi di area hulu yang mengubah lahan menjadi area komersil seperti untuk kelapa sawit ataupun pertambangan telah menyebabkan meningkatnya erosi dan limpasan permukaan yang lebih cepat setelah terjadi hujan deras. Hal tersebut membuat semakin tingginya risiko banjir di area hilir, terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha. Banjir besar pada tahun 2013 telah menyebabkan 28,000 jiwa harus dievakuasi. 

APIK memfokuskan kegiatannya di Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan. Area tersebut merupakan bagian besar dari DAS Wanggu yang juga merupakan DAS prioritas pemerintah di Sulawesi Tenggara. Bekerja di kedua area tersebut memberikan kesempatan bagi APIK untuk bekerja dengan pemerintah kota dan kabupaten dalam isu adaptasi perubahan iklim di masyarakat pesisir dan dataran tinggi. Selain itu, Konawe Selatan juga berhubungan langsung dengan Kendari terkait hidrometeorologi karena adanya deforestasi, kegiatan pertanian dan pertambangan yang menjadi penyebab masalah di hilir.