Maluku

Provinsi Maluku yang terletak di bagian timur Indonesia, terdiri dari dua kota (Ambon dan Tual) dan sembilan kota/ kabupaten, terpencar di beberapa klaster pulau seluas 47,000 km2. Kebanyakan pulau-pulau di Maluku memiliki kontur pegunungan yang terjal dan tertutup hutan dengan perkiraan 1,7 juta jiwa hidup dekat dengan laut. Berbagai kondisi di Maluku seperti banyaknya pulau-pulau kecil, pola permukiman di sepanjang area pesisir, serta iklim yang unik di mana musim basah dan kering berkebalikan dengan area-area lain di Indonesia, membuat Maluku menjadi wilayah yang tepat sebagai area kerja APIK. Maluku dapat menjadi "laboratorium" untuk bekerja dengan para pemangku kepentingan lokal untuk "mencoba" strategi adaptasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pulau-pulau kecil. Di Maluku, perubahan iklim mengganggu keamanan sumber mata pencaharian dan telah menggeser pola kerja- dari menangkap ikan menjadi pertanian (dan sebaliknya), begitu juga dengan kerja di desa menjadi di perkotaan. 

Rumah-rumah yang dibangun di kawasan rawan bencana sangatlah rentan. Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca ekstrem, angin, dan gelombang yang tidak terduga telah berlangsung merusak pola yang sudah diprediksi sebelumnya. Penangkapan ikan tradisional telah terkena dampak buruk karena ikan bermigrasi ke laut dalam dan stok ikan juga telah berkurang. Banyak nelayan kini bekerja paruh waktu sebagai buruh, dan banyak pula yang kembali ke tanah milik keluarga mereka dan mulai bertani sebagai alternatif sumber penghidupan. Namun, pertanianpun memiliki masalahnya sendiri karena berubahnya iklim. Para petani mengatakan musim kemarau menjadi lebih panjang dalam beberapa tahun terakhir dan akibatnya produktivitas ikut menurun. Naiknya permukaan air  laut dan erosi di pesisir juga terlihat terjadi di banyak lokasi di Pulau Ambon dan mengancam pulau-pulau kecil lainnya. 

Di Ambon, peralihan penggunaan lahan untuk permukiman di kawasan hutan telah memperparah bencana banjir dan longsor ketika terjadi hujan yang intens dan tidak biasa, telah mengancam dan pada beberapa kasus menghancurkan rumah serta masyarakat yang ada di lereng yang lebih rendah. Pemerintah telah merelokasi masyarakat dari area lereng yang sangat rentan bencana, namun banyak juga yang menolak dipindahkan. 

Hal memprihatinkan ini tetap terjadi meskipun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Maluku telah bertindak cepat untuk menyiapkan masyarakat lokal untuk merespon bencana. BPBD mencoba untuk melakukan upaya lainnya dengan fokus pada pencegahan risiko bencana. Dalam Rencana Kerja BNPB, baik Ambon dan Maluku Tengah merupakan bagian dari area prioritas pengurangan risiko bencana (PRB) selama lima tahun (2015-2019). 

Risiko bahaya hidrometeorologi terkini dan potensi risiko perubahan iklim yang ada saat ini antara lain: 

  • Lahan bekas hutan yang curam, seperti di Kota Ambon meningkatkan risiko banjir bandang dan berkurangnya cadangan air di musim kemarau. 
  • Data temperatur lokal (dari 1986-2012) menunjukkan meningkatnya tren yang diproyeksikan untuk terus berlanjut hingga mencapai 1,4oC pada 2050. Data historis hujan (1973-2011) menunjukkan adanya tren kenaikan volume, sedangkan proyeksi yang ada menunjukkan peningkatan pada bulan April dan Mei dan sedikit penurunan di bulan Agustus pada pertengahan abad. 
  • Dengan risiko yang sudah ada saat ini ditambah dengan perubahan iklim, risiko utama yang mengancam di masa mendatang adalah: longsor, banjir, dan naiknya permukaan air laut. Selain itu, tren kenaikan suhu dan semakin seringnya cuaca ekstrem akan menyebabkan dampak negatif terhadap produksi pertanian dan perikanan, dua elemen utama ekonomi di Maluku.