Jawa Timur

Di Provinsi Jawa Timur, APIK menargetkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sebagai bentang lahan prioritas. Tersebar di 17 kota dan kabupaten, DAS Brantas merupakan salah satu DAS prioritas pemerintah untuk konservasi dan rehabilitasi. Sekitar setengah penduduk Jawa Timur yang berjumlah 38 juta jiwa tinggal di DAS tersebut dimana terdapat pusat infrastruktur yang penting seperti delapan bendungan, dua bandara utama, jalan raya yang padat dilalui, serta rel kereta. Hal tersebut menjadikan DAS Brantas sebagai pusat ekonomi yang signifikan di Jawa Timur dan juga Indonesia. Pemilihan area kerja di Brantas juga memungkinkan APIK untuk bekerja di bentang lahan kawasan hulu, yang memiliki hubungan hidrologi yang kuat dengan salah satu kawasan dengan populasi yang tinggi. Sumber air utama Malang Raya (termasuk Kota Batu, Kota dan Kabupaten Malang) berasal langsung dari sungai dan mata air. Terdapat 10 aliran sungai di Malang Raya: Brantas, Metro, Jilu, Cokro, Rejoso, Amprong, Welang, Lesti, Ngotok Ring Kanal, dan Lahor. Di antara sungai tersebut, Sungai Brantas merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur dengan hilir di area Kota Batu. Sungai Brantas beserta dengan DAS-nya dianggap dalam kondisi kritis dan terdegradasi. DAS Brantas tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan air pada musim kemarau. Hal tersebut berdampak pada besaran dan frekuensi banjir serta sedimentasi. Selain itu, pendangkalan di waduk dan sungai juga semakin meningkat. 

Di bawah ini adalah beberapa risiko hidrometeorologi dan potensi risiko perubahan iklim: 

  • Kondisi DAS Brantas sudah sangat terdegradasi karena deforestasi, padatnya populasi, industri dan pabrik, serta kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai. Kombinasi berbagai hal tersebut telah memicu masalah kualitas dan jumlah debit air, permukaan air yang menurun, serta semakin seringnya banjir. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir merupakan risiko bencana yang paling sering terjadi di Jawa Timur secara keseluruhan. Longsor juga menjadi risiko di area DAS yang lebih tinggi. Banyak bantaran sungai di DAS Brantas yang menjadi permukiman ilegal. Permukiman padat ini telah berkembang di sekitar bantaran karena peraturan yang tidak ditegakkan pemerintah dan juga alasan ekonomi. 
  • Suhu yang diproyeksikan akan meningkat 1-2 derajat Celsius dalam jangka menengah (berdasarkan model iklim menggunakan skenario A1B dan kerangka waktu hingga 2050). Catatan data pengendapan menunjukkan adanya tren penurunan secara umum namun proyeksi tersebut masih tidak pasti mengingat data yang tersedia saat ini. Namun demikian, musim kemarau yang lebih panjang serta musim hujan yang lebih pendek dan intens akan terjadi mengingat semakin tidak terduganya sistem iklim. 
  • Mengombinasikan risiko yang sudah ada dengan perubahan iklim, risiko utama yang dihadapi Jawa Timur adalah krisis air, banjir, dan longsor, yang diperburuk dengan kepadatan populasi yang tinngi. Krisis air tetap menjadi dampak terbesar yang mengkhawatirkan untuk beberapa tahun mendatang bagi BAS Brantas dan juga Provinsi Jawa Timur. 

APIK fokus bekerja di tujuh kabupaten/ kota di Jawa Timur dalam area DAS Brantas: Kota Batu, Kota dan Kabupaten Malang, Blitar, Mojokerto, Jombang, dan Sidoarjo. Tujuh kabupaten/ kota tersebut membentuk bentang lahan DAS Brantas yang luas bermula dari bagian atas di Batu (sekaligus sumber dari Sungai Brantas) hingga ke kawasan hilir (dan sungai yang memasuki Selat Madura) di SIdoarjo. Bentang lahan DAS Brantas sangat rentan terhadap risiko banjir dan longsor.