Sumpah (Para) Pemuda (Untuk Bertani)

Tidak sedikit peneliti ataupun pengamat yang mengeluhkan makin berkurangnya generasi muda yang bergelut di bidang pertanian. Mereka melihat tren turunnya minat calon mahasiswa dalam memilih jurusan yang berkaitan dengan pertanian. Beberapa pengamat juga menilai bahwa kondisi pertanian di Indonesia sangat miris jika dilihat dari tingginya angka impor pertanian non-sawit. Kondisi ini diperparah dengan angka rata-rata konversi lahan sawah per tahun yang mencapai 110 ribu hektare (1998-2002) untuk tujuan permukiman, industri, dan lain-lain sehingga Indonesia saat ini menjadi importir pangan permanen, terutama jagung, kedelai, dan jika tidak hati-hati beras segera menyusul.1 Sekelumit permasalahan di sektor pertanian (termasuk perkebunan) terbentang mulai dari minat, ketersediaan dan konflik lahan, teknologi, permodalan, pengolahan, pemasaran, dan ancaman perubahan iklim menjadi tantangan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Secercah harapan sedikit demi sedikit mulai muncul dari para entrepreneur muda yang berkomitmen di bidang pertanian dan kedaulatan pangan. Kelompok-kelompok anak muda tersebut  mencoba untuk menjawab isu-isu di atas. Tidak main-main, sebagian dari mereka sudah menerapkan prinsip-prinsip pertanian yang berkelanjutan dan tahan iklim. Jargon-jargon seperti pertanian modern, susstainable agriculture, smart agriculture, precision agriculture, climate-smart agriculture atau pemanfaatan beragam metodologi dan teknologi seperti pertanian organik, pertanian urban, hidroponik, akuaponik atau mina-tani saat ini sudah mulai dikenal dan dikembangkan oleh beberapa kalangan muda.

Sebut saja BlueBootsFarm dan Kecipir yang memproduksi dan memasarkan bahan pangan bersumber lokal dan organik. Tidak tanggung-tanggung, Kecipir memiliki visi produksi, distribusi dan konsumsi pertanian secara lebih berkeadilan dan ramah lingkungan. Dalam prakteknya kedua kelompok tersebut tidak ketinggalan turut memanfaatkan aplikasi ponsel cerdas dan pemasaran daring. Dalam pemanfaatan teknologi dan inovasi, beberapa kelompok sudah memanfaatkan teknologi terkini mulai dari produksi sampai dengan pemasaran. Habibi Garden mencoba untuk mengedepankan konsep pertanian presisi (Precision Agriculture) yang memanfaatkan sensor dan Internet of Things. Mereka menciptakan perangkat pertanian presisi yang dapat memberi nutrisi pada tanaman dengan jumlah yang tepat dari dosis berdasarkan data real time lingkungan tanah yang diambil. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, dan mengurangi kemungkinan kegagalan panen.

 

 

Berbicara pertanian tidak melulu berbicara ladang persawahan. Jika ditilik dari hulu ke hilir industri pertanian/perkebunan, generasi muda memiliki kesempatan untuk menjawab tantangan tersebut. Ada yang berusaha memotong jalur pemasaran antara petani dan konsumen seperti Limakilo. Mereka berharap dapat menangani "penyakit lama" yang dimainkan oleh para tengkulak yang pasar menjadi tidak efisien. Di hilir, pemanfaatan hasil pertanian yang diolah, dikemas, dipasarkan dan disajikan menggunakan pengetahuan masa kini dapat menembuas batas-batas pasar luar negeri dan masuk ke mall-mall ternama. Sebut saja Javara melalui PT Kampung Kearifan Indonesia yang bergerak dari hulu ke hilir mempromosikan pangan lokal menembus pasar eropa, jepang, korea dan amerika serikat. belajar dari Mbak Helianti Hilman, yang justru 80% pasarnya difokuskan untuk ekspor, sementara sisanya diminati oleh pasar lokal di kalangan menengah ke atas dan masuk ke jaringan supermarket seperti Ranch Market dan Kem Chicks. Lain halnya dengan Burgreens, siapa sangka gaya hidup sehat ala vegan dapat bersaing dengan waralaba Junk Food mainstream yang merajalela di mall-mall di Jakarta. Mengusung menu-menu vegan (tidak menggunakan bahan hewani) dan sehat seperti Burger Tempe, Jamur dan Tahu yang diolah serta disajikan dengan serius dan menghasilkan rasa yang tidak kalah dengan menu-menu non-vegan. Dengan semangat perbaikan terhadap lingkungan, perilaku konsumsi dan memanfaatkan produk pangan lokal dan organik juga, Burgreens mampu membuka cabang mulai dari Bintaro, Tebet dan sekarang Blok-M, Pacific Place dan Pondok Indah. 

Gerai Burgreens di Pondok Indah Mall. (sumber: Instagram @burgreens)

Dari gambaran para kelompok muda di atas, jika ditanya bagaimana menilai peran anak muda di sektor pertanian Indonesia? penulis menyarankan untuk tidak melihat dari tren minat jurusan perkuliahan, karena di negara maju sekalipun minat jurusan perkuliahan bukan jaminan majunya sektor tersebut. Bahkan jurusan perkuliahan juga bukan jaminan yang menentukan karir seseorang. Selain kelompok-kelompok anak muda yang saya sebutkan di atas, saya yakin masih banyak anak-anak muda yang bergerak dibawah radar media dan sorotan, namun tetap bekerja dan memiliki implikasi positif untuk pertanian di masa mendatang.

Nexus

Dari cerita-cerita perjuangan (dan sukses) di atas, benang merah dari apa yang mereka kerjakan dan visi program APIK, tidak lain adalah hal-hal berikut:

  1. Pertanian berkelanjutan seperti yang dikembangkan oleh Kecipir dan BluebootsFarm adalah pertanian yang lebih tangguh iklim. Salah satu prinsip pertanian berkelanjutan adalah memperhatikan kualitas lingkungan, dimana hal ini memberikan sumbangsih terhadap pengurangan ancaman dan paparan terhadap stress iklim.
  2. Pertanian Presisi seperti yang dilakukan oleh Habibi Garden dapat berpotensi memberikan sumbangsih terhadap peningkatan produktivitas dengan prinsip hemat sumber daya (contoh: air bersih), waktu dan lahan. Dengan kata lain hal ini juga meningkatkan kapasitas komunitas terhadap stres iklim dan isu lahan. Praktek ini juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pertanian dalam menghadapi isu variabilitas iklim (ENSO, musim, dll.).
  3. Pengembangan dan diversifikasi pangan lokal seperti yang dilakukan oleh Javara merupakan salah satu solusi adaptasi di sektor ketersediaan pangan yang dapat menyeimbangkan dominasi pangan-pangan ciptaan budaya pendatang dan mengutamakan aspek nutrisi dan kesehatan.
  4. Dan yang terakhir, poin ke-tiga dapat didukung oleh penciptaan pasar dan tren di tingkat masyarakat menengah ke bawah melalui kreativitas dalam mengolah bahan-bahan pangan lokal menjadi produk yang lebih populer dan diminati berbagai kalangan seperti yang dilakukan oleh Burgreens. Tentu saja hal tersebut perlu didukung efektivitas pasar dengan meminimalisir monopoli dan peran pihak perantara dari produsen ke konsumen, seperti yang dicita-citakan oleh Limakilo.

Epilog

APIK memiliki program dengan pendekatan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana berbasis bentang lahan. Dengan keunikan tersebut, program-program kami menyasar ke kantong-kantong komunitas yang memiliki permasalahan spesifik yang berhadapan dengan stress iklim. Hal tersebut dapat diselaraskan dengan beragam institusi swasta, startup, komunitas maupun peneliti. Sekolah Lapang Iklim adalah salah satu program unggulan BMKG dalam rangka meningkatkan pemanfaatan informasi iklim di sektor pertanian dan mendukung ketahanan pangan. APIK di tahun 2017 telah menyelenggarakan beberapa rangkaian kegiatan SLI dan berkomitmen untuk terus mengembangkan metodologi pembelajaran tersebut. Belajar dari beberapa pelaksanaan kegiatan tersebut, nampak bahwa minat para petani untuk belajar sangatlah tinggi. Tua maupun Muda. Walaupun sebagian besar peserta sekolah tersebut tidak mengenyam pendidikan tinggi, bukan berarti mereka tidak berminat atau dapat belajar mengenai cara-cara pertanian modern. Status terdidiknya seseorang seringkali bukan hanya diperoleh dari bangku sekolah atau perkuliahan dan rendahnya tingkat pendidikan para petani kita bukan melulu karena mereka malas untuk belajar. Faktor ekonomi, keterbatasan akses pendidikan dan budaya terkadang menjadi alasan utama kenapa tingkat pendidikan petani kita rendah. Sehingga bermunculan persepsi-persepsi dangkal yang memunculkan image para petani merupakan profesi rendahan. Konsep Pembelajaran orang dewasa yang dipraktekan dalam metode Sekolah Lapang yang turut dipopulerkan yayasan Field pada era 80-am, justru diharapkan dapat memangkas keraguan para petani untuk terus belajar pengetahuan baru (atau pengetahuan lama yang baru buat mereka) dalam rangka meningkatkan taraf hidup mereka. 

Automatic Weather System

Melalui kegiatan Sekolah Lapang Iklim Perkebunan Tebu yang pertama kali kami gagas di Desa Wonokerto, Kabupaten Malang, APIK juga mencoba untuk sedikit demi sedikit memperkenalkan komponen dasar dari Precision Agriculture, seperti pengenalan pemanfaatan informasi cauca, iklim dan lingkungan melalui penggunaan sensor untuk mengukur Suhu, Kelembaban, Curah Hujan dan Angin dalam mengembangkan Bibit Tanaman Tebu.

Melihat secercah harapan di atas, kekurangan minat yang dikuatirkan para pengamat di atas dengan sendirinya akan terbangun, jika rasionalisasi dan pementaan masalah cukup jelas dilakukan untuk memetakan jalan ke mana para pemuda harus melangkah.

We know that climate action only works when we get everyone involved: our government, our business, our neighborhoods, and residents.

-Marty Walsh, Mayor of Boston, Massachusetts

Referensi

  1. Irianto, Gatot, Lahan dan Kedaulatan Pangan, 2016

Ditulis oleh: Mohammad Fadli - Penasihat Layanan Informasi Cuaca dan Iklim