Memberdayakan Petani untuk Memahami Informasi Cuaca dan Iklim untuk Pertanian yang Lebih Tangguh

Bagi petani di Indonesia, perubahan iklim bukanlah sebuah konsep abstrak yang terbatas pada dunia ilmiah serta skenario model dan iklim. Bagi petani Indonesia, fenomena ini telah menjadi realitas yang nyata dan sebuah momok dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk tetap bertahan dengan mata pencaharian mereka, mulai dari menggemburkan tanah hingga pada pemanenan. Dengan kesejahteraan keluarga dan masyarakat yang menjadi taruhannya, petani semakin familiar dengan anomali cuaca, serta perbedaan antara kondisi dahulu dengan saat ini. Ramlah, petani padi dari Sulawesi Tenggara mengingat kembali kemarau panjang yang melanda di tahun 2015 silam: 

"Sawah kami yang mendapat hasil cuma yang di pinggir kali karena kami pompa air. Kalau yang lainnya puso.... Kalau banjir, pada bulan-bulan Desember, Juni atau Juli kadang kita sudah menanam datang banjir. Jadi kita menanam ulang kembali setelah banjirnya lewat." 

Yang lebih parahnya, kekeringan dan banjir yang menimpa Ramlah dan masyarakat di Kelurahan Baruga, Kota Kendari ini bukan hanya kejadian sesekali saja, tetapi telah menjadi tren cuaca tidak menentu yang menggelisahkan. Arief, seorang petani lainnya juga bernasib sama dengan Ramlah, mengatakan banjir menjadi semakin tidak terprediksi setiap musimnya, dan ia juga seringkali harus menanam ulang dua hingga tiga kali ketika terjadi banjir. Yang terpenting, ketika tanaman berkali-kali gagal panen, efeknya nyata: biaya menjadi membengkak, dapur rumah tidak lagi ngebul, dan biaya pendidikan untuk anak-anak telat dibayarkan. Dengan kata lain, semakin tidak stabilnya musim hujan yang dikombinasikan dengan musim kemarau yang berkepanjangan, serta meningkatnya wabah penyakit dan hama membuat petani seperti Ramlah dan Arief secara khusus dan perekonomian Indonesia secara umum, menjadi lebih terpapar dan rentan. 

Di era meningkanya ketidakpastian meteorologi dan hidrologi, sistem informasi cuaca dan iklim (ICI) dapat berperan penting dalam membantu petani seperti Ramlah dan Arief untuk beradaptasi dengan berubahnya iklim dan cuaca ekstrem. Meningkatkan akses dan mengaplikasikan ICI merupakan salah satu komponen penting dalam program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK). Sebuah program berdurasi lima tahun yang mendukung pemerintah Indonesia untuk memperkuat ketangguhan bencana dan iklim, bekerja secara strategis mulai dari tingkat nasional hingga provinsi dan masyarakat. 

Kerja USAID APIK terkait ICI dimulai pada tahun pertama dengan dilakukannya Penilaian dan Survei terhadap Informasi Cuaca dan Iklim. Survei ini dilakukan untuk membantu banyak pemangku kepentingan menyadari peran dan aksi yang dibutuhkan untuk menggunakan data yang ada sebagai penentu pengambil keputusan. Survei tersebut dilakukan dengan dasar konsep mengenai rantai nilai informasi cuaca dan ikilm. Seperti terlihat dalam ilustrasi di bawah, aspek utama dari rantai nilai adalah (1) pengumpulan dan pengorganisasian data mentah, (2) penyusunan produk, (3) komunikasi dan diseminasi, (4) pengaplikasian dan penggunaan, dan (5) realisasi keuntungan dari penggunaan. Hal penting lainnya, metodologi survei ini dibuat sesuai dengan kebutuhan para pemangku kepentingan, dengan mewawancarai 650 individu perwakilan dari 11 badan pemerintah, 152 pemerintah lokal, 61 dari sektor swasta, media, dan lembaga penelitian, serta masyarakat yang berasal dari lebih dari 70 desa. 

CWI illustration_0.jpg
Rantai nilai informasi cuaca dan iklim

Salah satu temuan mendasar dari Laporan Survei ICI adalah produk ICI yang ada saat ini tidak sampai ke tangan para pengguna, dan sering kali gagal menyentuh masyarakat dan rumah tangga yang paling membutuhkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memproduksi informasi yang bermanfaat untuk petani, namun dari wawancara langsung ditemukan bahwa informasi tersebut seperti prakiraan musim yang memuat pergeseran musim tanam dan panen tidak serta merta mengubah praktik petani. Hal tersebut terjadi disebabkan baik karena produk informasi tersebut sulit diakses atau kontennya yang tidak mudah dimengerti. 

Untuk mengatasi tantangan dalam diseminasi produk ICI kepada orang yang benar dan waktu yang tepat, USAID APIK bekerja sama dengan BMKG melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) tahap tiga. Melalui SLI, petani belajar langsung dan mempraktikkan cara mengakses, memahami, dan mengaplikasikan produk ICI dari BMKG. SLI ini tidak seperti pelatihan pada umumnya karena sesi belajar berlangsung selama tiga bulan dan memberikan pelatihan mendalam serta mengembangkan ketrampilan untuk membantu petani menjadi semakin tangguh. Para peserta mendapatkan pengetahuan tentang setiap tahapan dari rantai nilai layanan ICI, mulai dari mengukur curah hujan secara akurat hingga kepada aplikasi penggunaan berbagai produk informasi dari BMKG untuk meningkatkan produktifitas tanaman. 

Sekolah Lapang Iklim tidak hanya terdiri dari sesi kelas tetapi para peserta juga langsung mempraktikkan pengetahuan yang mereka dapatkan di lahan plot demonstrasi dan bereksperimen dengan berbagai teknik penanaman. Dibantu oleh Dinas Pertanian, para petani juga belajar cara mengatasi wabah penyakit dan hama, serta penggunaan jenis benih yang berbeda-beda. Total tiga puluh petani bekerja bersama untuk mengidentifikasi jenis benih yang paling cocok dengan kondisi iklim lokal. Di saat yang bersamaan mereka juga mencatat data hidrometeorologis seperti curah hujan, suhu, dan kelembaban untuk memitigasi potensi dampak munculnya hama dan penyakit seperti blast

Ramlah, salah satu dari tiga puluh petani peserta SLI, mengatakan, "Sangat banyak manfaatnya Sekolah Lapang Iklim ini. Sebelum ikut Sekolah Lapang Iklim, kita belum tahu dan walaupun mendengar berita dari BMKG kita tidak mengeti sekarang kita sudah diajar bagaimana mengerti dan membaca cuaca, suhu, dan kelembaban, kita sudah mengerti kalau ada berita dari BMKG. Sekarang Ramlah juga dapat lebih efektif membantu suaminya. Ramlah mengatakan, "Kalau kita perempuan paling sering mengamati sawah karena kita perempuan yang rajin melihat situasi di sawah apakah butuh air atau butuh penyemprotan. Kalau misalnya kita dapat informasi curah hujan tinggi kita antisipasi di sawah buka pengairannya dulu baru ditutup lagi."

Ramlah is cleaning weeds from the rice fields at the Climate Field School demonstration plot_Megawati for USAID APIK_0.JPG
Ramlah membersihkan rumput liar di lahan demonstrasi Sekolah Lapang Iklim.

Tujuan utama dari Sekolah Lapang Iklim adalah untuk meningkatkan kapasitas petani untuk beradaptasi terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu, USAID APIK juga memperkuat BMKG sebagai penyedia utama produk ICI di Indonesia. USAID APIK bekerja dengan BMKG mengeksplorasi cara alternatif untuk mendiseminasikan produk informasi, baik melalui radio, pesan singkat atau SMS, ataupun aplikasi ponsel pintar. Selain itu, USAID APIK juga mendukung BMKG untuk menyesuaikan dan mengemas produk ICI, dan menekankan pada pesan yang terkait dengan waktu musim tanam dan panen. 

Memasuki tahun ketiga, USAID APIK akan terus bekerja dan mereplikasi Sekolah Lapang Iklim ke daerah lainnya. Sekolah Lapang Iklim untuk pertanian tebu di Kabupaten Malang, Jawa Timur sudah dimulai. Sejumlah 25 petani tebu belajar mengobservasi dan mencatat perkembangan tanaman, kelembaban, serta curah hujan. Selain itu mereka juga belajar mengintegrasikan teknis penanaman dengan ICI. Dengan demikian, pembelajaran melalui praktik, membumi, dan langsung turun ke lapangan diharapkan dapat memberdayakan petani tebu untuk beradaptasi terhadap kondisi saat ini dan mengubah risiko menjadi ketangguhan.