Membentengi Masyarakat Pesisir dengan Silvofishery

Semerbak aroma laut memenuhi udara sesaat memasuki Desa Segoro Tambak, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di tepi jalan, deretan kios menjajakan kerang, ikan, udang, dan cumi-cumi segar dalam berbagai ukuran. Dalam Bahasa Jawa, kata ‘Segoro’ berarti laut, sementara ‘Tambak’ memiliki makna empang atau tambak. Digabung, nama Segoro Tambak berarti hamparan tambak, yang secara harfiah tepat untuk menggambarkannya sebagai desa pesisir tempat tinggal para nelayan dan petambak.

Suryanto, dari Segoro Tambak mengaku ia mewarisi tambak dari ayahnya. Suryanto memiliki dua tambak seluas enam hektar, di mana ia membudidayakan udang vaname (juga dikenal dengan nama udang putih Pasifik), udang windu, ikan bandeng, dan ikan nila. Menurut Suryanto yang juga anggota Forum Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (Forum API-PRB), kini membudidayakan hasil laut semakin menantang, karena sering terjadinya luapan gelombang pasang (rob) yang menghancurkan tanggul tambak dan menghanyutkan ikan. “Akibat gelombang ini, kami harus memanen ikan dan udang lebih awal, yang berarti keduanya belum mencapai ukuran yang ideal, sehingga harga jualnya pun lebih murah. Sebab jika kami menunggu lebih lama, kami khawatir akan ada gelombang pasang lagi. Hal ini membuat kami putus asa,” kata Suryanto.

Kajian kerentanan dan risiko iklim yang dilakukan oleh USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) secara partisipatif tahun 2017 menegaskan pengalaman Suryanto dan mencatat fenomena banjir rob yang seringkali melanda Segoro Tambak, mengancam masyarakat yang 80 persennya bergantung pada sektor perikanan. Dalam diskusi kelompok terarah, masyarakat desa mengungkapkan bahwa tinggi gelombang pasang kian meningkat. Selain itu, mereka juga menyadari betapa gelombang pasang semakin sering terjadi, yakni di tahun 2010, 2013, 2015, dan 2017. Rob juga tak hanya menerjang tanggul tambak, namun menggenangi rumah dan jalanan, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur desa dan hilangnya penghidupan masyarakat.

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan menyadari pentingnya untuk mengatasi masalah ini, dan bekerja bersama masyarakat dalam mengembangkan rencana aksi untuk memperkokoh tambak. Implementasi rencana aksi untuk menerapkan metode ‘silvofishery’ dilakukan dengan melibatkan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. Silvofishery adalah teknik perikanan berkelanjutan yang mendorong konservasi lewat penanaman pohon mangrove atau bakau di sekitar tambak. “Teknik ini digunakan karena dua alasan. Yang pertama, sistem perakaran bakau akan menahan tanah pada tempatnya, sehingga akan melindungi tanggul tambak dari gelombang pasang. Kedua, bakau akan mendorong terciptanya lingkungan yang ideal bagi udang, ikan, dan kepiting untuk berkembang,” kata Dwi Sukamto, pengajar dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. Ia menambahkan bahwa di tahun 80an, banyak bakau ditanam di sekitar tambak di Segoro Tambak. Akan tetapi di masyarakat berkembang asumsi bahwa tambak yang baik adalah yang bersih dari pohon pelindung, sehingga masyarakat pun menebang bakau, tanpa menyadari bahwa area yang gundul akan lebih rentan terhadap gelombang.

Untuk menerapkan silvofishery, area tambak seluas dua hektar milik anggota Forum API-PRB digunakan sebagai lokasi percontohan. Sebelumnya di Februari 2018, USAID APIK mengajak anggota forum untuk mengunjungi Desa Pulokerto di Kabupaten Pasuruan yang telah berhasil mempraktikkan silvofishery. Dalam kunjungan tersebut, para petambak dari Segoro Tambak belajar langsung dari pegiat silvofishery.

Di Maret, anggota forum didampingi oleh Politeknik Kelautan dan Perikanan, menyiapkan lokasi percontohan dan mulai menanam benih bakau. Dua jenis bakau, yakni Rhyzopora dan Avicennia ditanam di sekeliling tambak. Dwi Sukamto mengatakan bahwa Rhyzopora dipilih karena sistem perakaran yang kuat, sedangkan Avicennia karena kemampuannya untuk tumbuh dengan cepat. Kedua spesies tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan yang kokoh terhadap gelombang pasang.

Pasca penanaman, petambak didampingi untuk merawat bibit bakau. Petambak memasang waring untuk melindungi bibit dan membersihkan lingkungan sekitarnya dari gulma. Mereka juga memantau pertumbuhan secara teratur. Walaupun bakau membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dewasa, namun petambak tetap bersemangat. “Saya sudah terbiasa dengan bakau karena dari dulu pohon ini banyak terdapat di sekitar desa, namun saya tidak menyadari manfaatnya maupun belajar untuk membudidayakannya. Lalu saya melihat sendiri saat berkunjung ke Desa Pulokerto dan merasa terinspirasi. Saya sadar bahwa bakau memerlukan waktu untuk tumbuh sempurna, namun saya yakin hal ini tidak akan sia-sia. Jika saya tahu dari dulu, saya akan mulai menanam dari beberapa tahun lalu,” kata Kodro, petambak dari Segoro Tambak.

Bakau dikenal sebagai komponen penting dari aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim karena kapasitasnya dalam menyimpan karbon dan kemampuannya melindungi daratan dari kenaikan permukaan air laut. Oleh karena itu, silvofishery merupakan strategi adaptasi yang tepat untuk Segoro Tambak, karena akan membantu memperkuat ketangguhan masyarakat dengan melindungi dan memastikan keberlanjutan sumber mata pencaharian dan lingkungan desa. Secara perlahan tapi pasti, perubahan sedang terjadi, dan kami menantikan Segoro Tambak yang lebih tangguh.