Membantu Murid Bersiapsiaga terhadap Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pada tahun 2016, jumlah bencana alam mencatat rekor dengan total 2.342 kejadian, dengan lebih dari 90% merupakan bencana hidrometeorologis. Pada tahun 2017, banjir dan longsor diprediksi akan terus meningkat dengan cepat. Sebuah studi dari Jepang mengungkapkan bahwa faktor utama yang menentukan tingkat kelangsungan hidup pada saat terjadinya bencana adalah kesiapsiagaan. Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja bersama dengan BNPB dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiga provinsi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal, terutama kelompok-kelompok yang rentan seperti anak-anak agar semakin tangguh ketika bencana terjadi. 

Di Provinsi Sulawesi Tenggara, USAID APIK dengan BPBD dan Dinas Pendidikan melakukan kajian kerentanan awal di sekolah. Setelah survei lapangan, dua Sekolah Dasar di Kendari Barat yaitu Sekolah Dasar Negeri 6 dan 8, diidentifikasi sebagai sekolah yang rawan banjir. Sebagai solusinya, USAID APIK melalukan rangkaian kegiatan pelatihan dari April hingga Mei 2017 terkait aksi adaptasi dan pengurangan risiko bencana, menyelenggarakan lokakarya mengenai penilaian risiko bencana partisipatif. Dari kegiatan tersebut Unit Siaga Bencana sekolah pun dibentuk. 

Membuat Peta Sekolah Siaga Bencana Kendari_0.jpg
Murid SDN 6 sedang menggambar peta sekolah mereka dan mengidentifikasi risiko yang ada di sekitar mereka dalam kegiatan Penilaian Risiko Bencana Partisipatif pada 3 Mei 2017.

Terbentuknya unit siaga bencana sekolah bukan berarti pekerjaan rumah selesai. Masih ada tahapan yang dilakukan setelah tim dibentuk. USAID APIK membantu perumusan Standar Operasional Prosedur (SOP), menetapkan rute evakuasi, mendistribusikan peta risiko, dan memasang tanda rute evakuasi. Dengan demikian semua murid sekolah memahami apa yang perlu dilakukan, sebelum, pada saat, dan setelah bencana datang. Simulasi evakuasipun dilakukan dengan melibatkan para pemangku kepentingan seperti Dinas Perhubungan dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di kedua sekolah pada 18 Mei 2017. Sekitar 500 murid berpartisipasi dalam kegiatan simulasi. 

Ketua Unit Siaga Bencana SDN 6, Abidin mengatakan, "Pada saat banjir yang melanda beberapa minggu lalu, kami para guru berhasil mengamankan dokumen-dokumen penting di sekolah sebelum banjir terjadi. Dulu, kita hanya memikirkan keselamatan kita sendiri. Kami tidak tahu sama sekali mengenai kesiapsiagaan, namun sejak USAID APIK datang, kini kami menjadi lebih sadar dan tahu apa yang harus kita lakukan ketika terjadi bencana. Kita tahu harus kemana, apa yang harus dilakukan, dan rute yang harus kita ambil. Kami sekarang menjadi lebih siap." 

USAID APIK menggunakan pendekatan yang sama di Provinsi Maluku untuk mendukung BPBD dalam membangun sekolah tangguh bencana di Kota Ambon. USAID APIK mendukung peningkatan kapasitas murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan mendorong mereka untuk menjadi relawan Unit Siaga Bencana Sekolah (USI BELA) di sekolah mereka masing-masing. Para murid belajar mengenai banyak hal seperti, kepemimpinan, karakterisitik bencana, hubungan antara cuaca dan iklim dengan bencana alam, evakuasi dan penyelamatan, serta pertolongan pertama. 

"Saya belajar ketika terjadi bencana, saya harus keluar dari gedung sekolah dan menuju tempat yang lebih aman. Sekarang saya tahu harus kemana dan apa yang harus saya lakukan," kata Centia Sahetapi, siswi SMP 8 Ambon.

Sebagai hasilnya, sekitar 100 murid dari lima SMP di Ambon kini mengetahui bagaimana mengidentifikasi risiko bencana yang ada di sekitar sekolah mereka, mengetahui rute evakuasi, memiliki keterampilan untuk respon pertolongan pertama, dan dapat menyusun SOP pengelolaan bencana untuk sekolah mereka. Simulasi juga dilakukan pada 17 Mei 2017 untuk menguji coba SOP dan mendiseminasikan kesadaran dan keterampilan kepada seluruh siswa dan siswi di sekolah serta lingkungan sekitarnya.

Di Kota Batu, Jawa Timur lebih dari 200 murid dari beberapa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghabiskan waktu akhir pekan mereka berpartisipasi dalam Kemah Kesiapsiagaan Bencana yang didukung oleh USAID APIK. Selama berkemah, mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru mengenai kesiapsiagaan bencana melalui pelatihan yang diberikan oleh BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI). Pelaksanaan kegiatan tersebut pada 22-23 April 2017 juga bertepatan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diperingati setiap 26 April. Acara kemah diakhiri dengan para siswa dan siswi yang langsung turun tangan melakukan aksi penanaman pohon di bantaran sungai DAS Brantas yang rawan terhadap longsor. 

Apa yang dilakukan oleh USAID APIK di Provinsi Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Jawa Timur membantu memastikan kelompok masyarakat yang paling rentan yaitu anak-anak agar lebih siap siaga ketika mereka harus menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Kepala BPBD Ambon, Enrico Matitaputty mengatakan, "Saya harap akan ada lima lagi Sekolah Tanggap Bencana di Kota Ambon yang dapat ditanggung oleh anggaran pemerintah terutama untuk sekolah-sekolah dengan risiko bencana tinggi." Model dan pendekatan yang dilakukan dapat direplikasikan di sekolah lainnya dengan adanya dukungan yang berkelanjutan dan komitmen dari pemerintah lokal yang akan membantu untuk peningkatan ketangguhan dan kesiapsiagaan bencana generasi muda hingga beberapa dekade mendatang.