Ketika Perempuan Menjadi Pemimpin: Membangun Ketangguhan Masyarakat Dua Langkah Sekaligus

IMG_5089_resize_1.jpg
Kebanyakan anggota perempuan dari Forum API PRB di Desa Gajahrejo adalah ibu rumah tangga. Masyarakat desa memiliki sumur tradisional di belakang rumahnya sebagai sumber air utama. 

Dua jam perjalanan dari Kota Malang, di Desa Gajahrejo, Kabupaten Malang, Jawa Timur; perempuan yang menjadi anggota Forum Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) terus berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka meski menghadapi dampak perubahan iklim yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pada tahun 2015, musim kemarau berkepanjangan selama tujuh bulan, membuat hidup masyarakat menjadi sulit dengan keringnya sumur-sumur mereka. "Kami harus mengantri untuk ambil air di sumber mata air. Kalau untuk mereka yang mampu ya beli air. Harganya Rp 50.000 itu hanya cukup untuk tiga hari. Saya bahkan sampai jual sapi untuk menutupi kebutuhan air," kata Suyati, ibu rumah tangga yang juga merupakan anggota forum API PRB. 

Selain itu, kekeringan juga harus dihadapi oleh para ibu hamil. Ketua Forum API PRB di Desa Gajahrejo yang juga sekaligus berprofesi sebagai bidan desa, Ning Risa Novelani mengatakan, "Ketika musim kering dan tidak ada air di rumah, bahkan perempuan hamil harus ikut mengantri ambil air. Antriannya itu sangat panjang, dan bisa sampai jam 2 atau 3 pagi." Ia juga menambahkan kekurangan air dapat menjadi masalah bagi perempuan hamil yang akan melahirkan. 

Pernah satu waktu, di tempat saya tidak ada air. Saya khawatir sekali bagaimana kalau hari itu ada ibu yang akan melahirkan. Untungnya, PMI [Palang Merah Indonesia] datang di saat yang tepat. Siangnya mereka datang membagikan air dan benar saja insting saya, malam harinya ada ibu yang melahirkan. Kalau seandainya siang itu tidak ada pembagian air dan tidak cukup air saya tidak terbayang." - Ning Risa Novelani. 

Melalui skema Dana Ketangguhan, program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan PATTIRO untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di desa dalam mengintegrasikan API PRB ke dalam perencanaan pembangunan desa dan rencana kerja pemerintah desa. Bekerja di enam desa di Kabupaten Malang, salah satu strategi yang dijalankan adalah dengan membentuk forum di setiap desa. Keterlibatan perempuan dalam proses pembentukan forum tersebut sangat penting. Ketika perempuan memiliki akses untuk terlibat dalam proses pembuatan keputusan di desa, maka perempuan akan berdaya dan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan solusi terbaik dalam menjawab persoalan yang mereka hadapi. 

Ning Risa mengatakan menjadi Ketua Forum API PRB di desanya sangatlah membantu pekerjaannya sebagai bidan, "Sebagai bidan desa, saya harus selalu mengetahui apa saja yang terjadi di desa. Melalui forum ini, akan sangat membantu dan saya bisa menjadi pihak yang pertama tahu jika ada bencana terjadi sehingga kemudian saya bisa dengan cepat mendeteksi perempuan hamil yang tersebar di beberapa lokasi." Selain itu menjadi ketua forum juga memungkinkan ia untuk mengajukan inisiatif dan program yang berhubungan dengan perempuan untuk dimasukkan ke dalam perencanaan kerja serta anggaran pemerintah desa. Ia mengatakan, "Sebelumnya saya hanya tau sedikit saja tentang cuaca ekstrem dari berita, tapi sekarang saya belajar banyak dengan adanya forum ini." 

Pada Januari 2017, PATTIRO akan menyelenggarakan pelatihan memanen air hujan untuk mempersiapkan masyarakat desa dalam menghadapi musim kekeringan panjang. Ning Risa sangat antusias untuk belajar dan mempraktikkan langsung apa yang akan dipelajari nanti. "Saya tadinya tidak tahu bahwa kita bisa memanen air hujan dan bisa digunakan untuk air minum," katanya. USAID APIK percaya bahwa perempuan merupakan kunci untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh. Ning Risa bersama dengan perempuan lainnya yang juga merupakan anggota forum API PRB di enam desa di Kabupaten Malang merupakan bukti bahwa menyelamatkan manusia 'dua langkah sekaligus' bukanlah hal yang tidak mungkin.