Sekolah Lapang Iklim Pertanian untuk Membangun Ketangguhan Petani menghadapi Risiko Perubahan Iklim

*We apologize this press release is only available in Bahasa Indonesia. 

Rilis Pers

Sekolah Lapang Iklim Pertanian untuk Membangun Ketangguhan Petani menghadapi Risiko Perubahan Iklim

 

Kendari, 15 Juli 2017. Dampak perubahan iklim dalam meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis telah dirasakan di berbagai sektor termasuk sektor pertanian. Pada sektor ini, salah satu dampak perubahan iklim yang paling dirasakan petani adalah ancaman puso ketika kemarau panjang, turunnya produksi karena hujan, hama dan penyakit karena pola tanam yang tidak berjalan, serta risiko gagal panen. Selain itu, risiko bencana banjir juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contohnya banjir yang melanda lima kabupaten di Sulawesi Tenggara selama bulan Mei tahun ini saja telah menyebabkan lebih dari 1.700 hektar sawah terendam dan setidaknya 800 hektar yang gagal panen[1].

Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyedia data cuaca dan iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memiliki beberapa produk dan kanal layanan informasi cuaca dan iklim seperti ramalan cuaca harian, tiga harian, dan mingguan, prediksi musim setiap bulan, serta peringatan dini cuaca yang sebenarnya dapat membantu petani dalam mengambil keputusan dalam kegiatan pertanian. Akan tetapi dari hasil kajian terhadap layanan informasi cuaca dan iklim yang dilakukan USAID APIK ditemukan bahwa belum optimalnya proses diseminasi dari pemerintah daerah ke masyarakat, serta keterbatasan akses informasi mengakibatkan tingkat penggunaan informasi cuaca dan iklim di kalangan petani masih sangat rendah.

Menyadari permasalahan tersebut, maka USAID APIK bekerja sama dengan BMKG, Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), serta Dinas Pertanian Kota Kendari menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 3 bidang pertanian yang dipusatkan di Kelurahan Baruga, Kota Kendari.

Melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI), petani diberdayakan untuk memahami dan memanfaatkan informasi dan prakiraan iklim/ musim secara efektif dalam kegiatan pertanian mereka. SLI merupakan studi lapangan yang berorientasi pada program praktis dan memberikan kesempatan kepada petani untuk belajar bersama. SLI Tahap 3 Pertanian akan dilaksanakan selama tiga bulan, dari 15 Juli hingga 14 Oktober 2017 dan diikuti oleh 30 orang petani. Pengamatan di lokasi demplot akan dilakukan setiap hari oleh petani dan pertemuan akan dilakukan setiap 10 hari untuk membahas hasil pengamatan di lapangan sebagai proses pembelajaran. Kegiatan SLI akan difasilitasi oleh tim dari BMKG Maritim Kendari, BMKG Klimatologi Ranomeeto Konawe Selatan, Dinas Pertanian Sulawesi Tenggara, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi, Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan USAID APIK Sulawesi Tenggara. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ranomeeto, Aris Yunatas, berharap bahwa dengan dilaksanakannya Sekolah Lapang Iklim di Baruga ini tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman mengenai iklim tetapi juga lebih jauh mampu meningkatkan produktivitas pertanian.”

Dengan berbagai risiko bencana dan iklim di depan mata, petani harus menjadi lebih tangguh. Manajer Regional Sulawesi Tenggara USAID APIK, Buttu Ma’dika mengatakan, “Kita harus segera beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah nyata dirasakan dampaknya. Pemanfaatan teknologi dan penggunaan informasi cuaca dan iklim yang optimal akan membantu meningkatkan ketangguhan petani yang berperan penting dalam ketahanan pangan.” Melalui SLI diharapkan  ketangguhan petani menghadapi risiko bencana dan iklim akan meningkat dan membantu upaya peningkatan kesejahteraan mereka serta memastikan stok pangan untuk masyarakat tetap aman dan berkelanjutan.

---

Kontak untuk wawancara:

  • Manajer Regional Sulawesi Tenggara USAID APIK- Buttu Ma’dika

Email: Buttu_madika@dai.com | Mobile: 0811 409 3898 | Whatsapp: 0852 5529 7282

  • Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ranomeeto – Aris Yunatas

Mobile: 0821 9380 4001

 

Catatan Editor:

  • Hasil kajian kerentanan dan risiko iklim yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan di Sulawesi Tenggara dengan dukungan USAID APIK baru-baru ini menunjukkan sektor pertanian, perikanan, kehutanan, transportasi, penanggulangan bencana dan air bersih merupakan sektor yang paling terdampak perubahan iklim di Sulawesi Tenggara.
  • Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 2 berupa kegiatan Pelatihan untuk Pelatih atau para penyuluh pertanian telah diselenggarakan pada 17 hingga 21 April 2017.
  • USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana mulai dari level nasional hingga lokal. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK bekerja bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses melalui http://apikindonesia.or.id/