Program Sekolah Lapang Iklim Nelayan Jawa Timur

Kota Malang, 2 Mei 2017. Di tahun 2016, APIK melakukan serangkaian kegiatan penilaian (assessment) terhadap pemanfaatan layanan informasi cuaca dan iklim (ICI) di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Dari penilaian tersebut ditemukan bahwa di ketiga wilayah APIK, tingkat penggunaan layanan ICI di kalangan masyarakat (termasuk nelayan, petani, dan UMKM) masih sangat rendah. BMKG saat ini sudah memiliki banyak produk yang didedikasikan untuk membantu masyarakat dalam mengambil keputusan dalam aktivitas sehari-hari termasuk ramalan cuaca harian, tiga harian dan mingguan,informasi cuaca maritim (tinggi gelombang, angin, arus, dll.), prediksi curah hujan musiman & bulanan, informasi variabilitas iklim (ENSO, Monsun, Dipole Mode, dll.) dan peringatan dini cuaca ekstrem (termasuk hujan ekstrem, gelombang tinggi dan potensi kekeringan). Idealnya, semua produk tersebut dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Namun demikian, kondisi di lapangan ditemukan bahwa informasi tersebut belum dapat diserap secara maksimal oleh masyarakat pada umumnya dan masyarakat pesisir pada khususnya. 

Dalam hal aksesibilitas, BMKG sudah memiliki beberapa kanal informasi utama dalam menyebarkan informasi kepada publik, diantaranya melalui website, aplikasi android, serta penyampaian langsung kepada beberapa instansi terkait. Namun demikian, hal tersebut berhadapan tantangan kondisi di lapangan yang membuat proses tersebut belum berjalan maksimal. Dalam laporan assessment, APIK menganalisis bahwa hal ini disebabkan diantaranya oleh masih rendahnya pemahaman manfaat layanan ICI di tingkat masyarakat, masih belum optimalnya proses diseminasi dari pemerintah daerah ke masyarakat, dan keterbatasan akses informasi.

Untuk masyarakat pesisir yang sebagian besar penghidupannya bergantung pada aktivitas nelayan dan budidaya, perubahan iklim juga berdampak pada aktivitas operasional mereka seperti sempitnya jadwal melaut akibat gelombang tinggi, menurunnya kualitas produksi tambak, dll. Selain permasalahan non-klimatik seperti pertambahan populasi, perkembangan wilayah pesisir, dan keterbatasan akses, perubahan iklim juga memperparah situasi dengan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologis, potensi ketidakpastian cuaca maritim, risiko angin kencang, risiko banjir rob, erosi pantai, perpindahan wilayah tangkapan ikan, dan dalam jangka panjang berdampak pada peningkatan muka air laut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin mempublikasikan informasi cuaca dan iklim yang berguna untuk sektor perikanan dan kelautan, seperti Prakiraan Musim Hujan / Kemarau, Prakiraan Cuaca Harian/Ekstrim, Prakiraan Gelombang dan Arus Laut serta Prakiraan Arah dan Kecepatan Angin yang diharapkan bermanfaat untuk mendukung berbagai kegiatan operasional sehari-hari. Dalam rangka meningkatkan penggunaan informasi tersebut, sejak tahun lalu, Pusat Meteorologi Maritim BMKG bersama dengan UPT Stasiun Meteorologi Maritim di setiap provinsi secara rutin mengadakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Nelayan yang siselenggarakan di masing-masing Provinsi. Tahun ini melalui dana dari APBN, bersama dengan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya, SLI Nelayan juga diselenggarakan di Jawa Timur dengan mengundang perwakilan dari beberapa kota/kabupaten termasuk Kota Surabaya, Tuban, Sumenep dan Pacitan. Agenda ini sejalan dengan salah satu tujuan APIK yakni meningkatkan penggunaan layanan ICI di wilayah Jawa Timur. Untuk itu APIK turut berpartisipasi dalam mendukung kegiatan ini dengan menambahkan peserta dari Kab. Sidoarjo, Kab. Malang dan Kab. Blitar. 

“Kegiatan SLI ini diharapkan dapat dijadikan wadah untuk berbagi ilmu pengetahuan dari BMKG ke penyuluh terkait pelayanan informasi Meteorlogi Maritim, memberikan pengetahuan kepadan penyuluh perikanan/ petugas dinas terkait tentang iklim dan kemampuan antisipasi dampak gejala iklim ekstrim terhadap kegiatan perikanan, meningkatkan diseminasi layanan informasi Meteorologi Maritim kepada penyuluh, memberikan pemahaman informasi iklim serta pemanfaatannya secara optimal untuk menunjang keberhasilan pembangunan di sektor perikanan,” ungkap Ardanti Sutarto, Manajer Regional Jawa Timur. Kegiatan SLI  Nelayan ini diikuti oleh para petugas Penyuluh Perikanan, Kelompok Nelayan dan Petugas Pelabuhan Perikanan.

Kontak untuk wawancara:

Manajer Regional Jawa Timur, Ardanti Sutarto: ardanti_sutarto@dai.com

CATATAN EDITOR:

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana mulai dari level nasional hingga lokal. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK bekerja bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses melalui http://apikindonesia.or.id/