Pembangunan dan Penganggaran Responsif terhadap Penghidupan Perempuan di Pulau Kecil merupakan Kunci untuk Meningkatkan Ketangguhan Masyarakat Maluku

SIARAN PERS

Untuk Disiarkan Segera

Pembangunan dan Penganggaran Responsif terhadap Penghidupan Perempuan di Pulau Kecil merupakan Kunci untuk Meningkatkan Ketangguhan Masyarakat Maluku

 

Ambon, 17 Maret 2017. Perubahan iklim mengancam kehidupan masyarakat Maluku yang rentan terhadap berbagai risiko bencana iklim seperti longsor, banjir, dan abrasi pantai. Kaum perempuan menjadi pihak yang lebih rentan dalam menghadapi dampak perubahan iklim dengan adanya peran dan beban ganda. Terlebih lagi dengan stereotip yang ada, penghidupan perempuan seringkali terlupakan dan tidak tercatat dalam statistik. Hal tersebut membuat perempuan semakin direntankan karena tidak dapat mengakses program bantuan dan pembangunan. Padahal, penghidupan adalah salah satu tolok ukur kapasitas adaptif dan kemampuan untuk “membangun kembali” ketika bencana melanda.

Spesialis gender program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK), Irmia Fitriyah menyampaikan hasil temuan dari asesmen awal dalam Dialog Interaktif yang diselenggarakan hari ini untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret. “Akses perempuan terhadap bantuan untuk peningkatan kesejahteraan masih terbatas terutama bagi mereka yang bekerja di sektor yang didominasi oleh laki-laki seperti nelayan. Akses perempuan terhadap sumber ekonomi bahkan bisa terhenti ketika terjadi bencana. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang memiliki mobilitas lebih tinggi dan tidak terbebani urusan rumah tangga,” ungkap Irmia Fitriyah.

Di saat yang bersamaan, meski perempuan menjadi pihak yang rentan dan direntankan, mereka juga justru menjadi agen perubahan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat. Kearifan lokal yang ada di masyarakat sudah menjadi bukti bahwa perempuan berperan dalam aksi adaptasi. Aprodite M. Sahusalawane, akademisi dari Universitas Pattimura menyampaikan, “Perempuan adalah pihak yang lebih mengenal alam, karena alam erat kaitannya dengan penyediaan pangan. Perempuan petani di Pulau Kisar misalnya, memiliki kearifan lokal dalam menjaga pangan yang disebut itawase, yaitu sistem tanam di mana lubang tanam diberi bibit lebih dari satu jenis tanaman pangan. Sistem ini adalah model ketahanan pangan yang sesuai dengan lingkungan sekitar.”

Contoh nyata telah membuktikan peran perempuan dalam praktik adaptasi perubahan iklim dan membangun ketangguhan masyarakat. Yayasan Walang Perempuan, sebuah organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan menyatakan sudah saatnya program dan anggaran pembangunan lebih responsif terhadap perempuan dan penghidupannya. Daniella Loupatty dari Yayasan Walang Perempuan mengatakan, ”Sudah saatnya isu gender diintegrasikan pada program perubahan iklim dan teraktualisasi dengan tersedianya anggaran pembangunan termasuk dalam dana desa.”

Sesuai dengan semangat peringatan Hari Perempuan Internasional, sudah saatnya pemerintah memrioritaskan pendekatan kesetaraan gender dalam program-program pembangunan dan alokasi anggaran untuk kegiatan-kegiatan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dengan melibatkan dan memberdayakan perempuan. Jika perempuan terus terpinggirkan, cita-cita untuk mensejahterakan dan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko-risiko bencana iklim yang sudah nyata akan menjadi sebatas utopia semata.

---

 

Kontak Wawancara: Irmia Fitriyah – Spesialis Gender Program USAID APIK: Irmia_Fitriyah@dai.com - 0813-5581-9928

Yayasan Walang Perempuan: Daniella Loupatty  - 081344577503

Pusat Studi Gender Universitas Pattimura:  Aphrodite M Sahusilawane - 081343026657

Kontak Media: Sheila Kartika – Communication dan Outreach Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) sheila_kartika@dai.com – 0856-887-1996

 

Catatan Editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Interasional Amerika Serikat (USAID) yang bertujuan membantu Indonesia dalam mengelola risiko bencana dan ikilm. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dari level lokal hingga nasional. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK juga bekerja langsung bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses di www.apikindonesia.or.id.
  • Yayasan Walang Perempuan merupakan organisasi non pemerintah yang berfokus pada peningkatan hidup kaum perempuan dan anak yang termarjinalisasi oleh budaya patriarki.  Informasi lebih lanjut mengenai Yayasan Walang Perempuan dapat diakses di https://yayasanwalangperempuan.wordpress.com/