Menyiapkan Masyarakat Konawe Selatan agar Tangguh Bencana

Konawe Selatan, 26 April 2018. USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Selatan menyelenggarakan simulasi bencana di Desa Laeya dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2018.

Kegiatan dipusatkan di Desa Laeya dengan melibatkan sekitar 350 anggota masyarakat serta siswa-siswi SD 7 Laeya dan SMA 7 Laeya. Simulasi difokuskan pada bencana banjir karena Desa Laeya rutin dilanda bencana ini. Simulasi banjir adalah puncak dari rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam peringatan HKBN 2018. Sebelumnya dari tanggal 18-25 April, APIK bersama BPBD, Kelompok Siaga Bencana (KSB) Desa Laeya, dan masyarakat telah melakukan berbagai persiapan mulai dari penyusunan acuan prosedur standar (Standard Operating Procedure atau SOP), pemetaan dan penentuan jalur evakuasi, serta pemasangan rambu penanda jalur evakuasi. Pelatihan kesiapsiagaan bencana dilakukan agar masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika banjir datang, sehingga dapat merespon dengan tanggap. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kerugian termasuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Konawe Selatan termasuk daerah yang terdampak parah saat banjir akibat hujan berkepanjangan terjadi di tahun 2017. Air setinggi 3-5 meter merendam rumah dan merusak 60 hektar sawah. Seratus lima puluh rumah di Desa Laeya pun terendam.1 Kepala Pelaksana BPBD Konawe Selatan, Ir. H. Adywarsyah Toar, M.Si. mengatakan bahwa daerah Konawe Selatan rentan terhadap bencana seperti banjir, angin puting beliung, kekeringan, dan abrasi pantai. “Yang terpenting untuk diingat adalah, bencana tak dapat ditangani oleh hanya satu pihak. Harus ada kerjasama multipihak, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, lembaga donor, dan program misalnya seperti APIK.  BPBD dalam hal ini berperan layaknya seperti lokomotif, yang menggandeng para pihak untuk berkolaborasi mengantisipasi dan menanggulangi bencana,” katanya. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa setelah adanya kegiatan sosialisasi, pembekalan masyarakat dan pembinaan kelembagaan, Desa Laeya rencananya akan didaulat sebagai desa tangguh bencana.

Peringatan HKBN 2018 dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bencana dan mempromosikan budaya aman di masyarakat. Dengan mengangkat tema “Siaga Bencana Dimulai dari Kita, Keluarga, dan Komunitas”, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan keterlibatan 25 juta orang.

Manajer regional program USAID APIK, Buttu Madika menyambut positif kegiatan ini. “Kolaborasi antara APIK, BPBD Konawe Selatan dan masyarakat Laeya merupakan langkah bersama untuk membangun ketangguhan masyarakat. Dari hasil kajian risiko partisipatif yang APIK lakukan tahun 2017 diketahui Desa Laeya sebagai daerah yang memiliki tingkat risiko bencana tinggi, yang akan semakin rentan dengan dampak perubahan iklim. Sebagai lanjutan kajian, APIK melakukan pendampingan, salah satunya dengan pembentukan KSB dan penyusunan rencana aksi masyarakat,” ujarnya. KSB terdiri dari 30 orang anggota masyarakat dari berbagai latar belakang antara lain guru, petani, kepala dusun, dan perangkat desa. KSB berperan sebagai tim inti yang siap siaga dan bertanggung jawab memimpin evakuasi saat bencana.

Sejak 2017, USAID APIK aktif berperan meningkatkan ketangguhan masyarakat Sulawesi Tenggara. Di bulan April-Mei 2017, APIK melakukan pelatihan dan simulasi bencana banjir di SD 6 dan SD 8, Kendari Barat yang diikuti oleh 500 siswa. Selain itu, APIK memfasilitasi penilaian ketangguhan Kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari, bekerja sama dengan BPBD menyusun rencana kontingensi banjir untuk Kota Kendari, serta melakukan kajian kerentanan pada tingkat lansekap dan tingkat desa/kelurahan untuk mengetahui risiko iklim serta memberikan rekomendasi yang dapat diambil oleh masyarakat. Pelatihan dan simulasi bencana di Desa Laeya diharapkan dapat mempertegas komitmen APIK untuk membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat.

---

Kontak wawancara: Buttu Madika – Manajer Regional Sulawesi Tenggara Program USAID APIK –Buttu_Madika@dai.com; 0852-5529-7282

Kontak media dan permintaan foto: Enggar Paramita – Spesialis Komunikasi Program USAID APIK –Enggar_Paramita@dai.com; 0811-1772-687

 

Catatan Editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia di tingkat nasional, provinsi hingga tingkat lokal. Dengan menggunakan pendekatan lanskap, APIK juga bekerja langsung dengan masyarakat dan sektor bisnis agar secara proaktif mengelola risiko, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengakses, memahami, dan mengomunikasikan informasi iklim.

 

  • Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK serta hasil dari studi dan penilaian ketangguhan yang telah dilakukan dapat diakses di www.apikindonesia.or.id