Meningkatkan Akses Perempuan terhadap Air sebagai Bentuk Adaptasi Perubahan Iklim di Hari Air Sedunia

SIARAN PERS
Untuk Disiarkan Segera
Meningkatkan Akses Perempuan terhadap Air sebagai Bentuk Adaptasi Perubahan Iklim di Hari Air Sedunia

 

Surabaya, 22 Maret 2017. Salah satu dampak perubahan iklim adalah bencana hidrometeorologi seperti kekeringan yang semakin panjang. Isu air menjadi semakin penting apalagi ketika kekeringan panjang terjadi dan perempuan adalah kaum yang paling rentan. “Kami harus mengantri untuk ambil air. Kalau yang mampu ya beli. Harganya Rp 50.000 dan hanya cukup untuk tiga hari,” kenang Suyati ibu rumah tangga warga Desa Gajahrejo, Kabupaten Malang yang bercerita mengenai kekeringan yang harus dihadapi pada tahun 2015 lalu.

Spesialis gender program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) menyampaikan hasil temuan dari asesmen awal dalam diskusi yang diselenggarakan hari ini untuk memperingati Hari Air Sedunia setiap 22 Maret dan juga Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret. “Akses perempuan terhadap sumber ekonomi dapat terhenti ketika terjadi bencana. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang mobilitasnya lebih tinggi dan tidak terbebani urusan rumah tangga. Air adalah kebutuhan utama dan umumnya perempuan adalah pihak yang bertanggung jawab mengambil air untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan lain-lain,” ungkap Irmia Fitriyah.

Di saat yang bersamaan, meski perempuan menjadi pihak yang rentan dan direntankan, mereka juga justru menjadi agen perubahan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat. Kearifan lokal yang ada di masyarakat sudah menjadi bukti bahwa perempuan berperan dalam aksi adaptasi. “Berbagai sumber budaya, termasuk cerita rakyat, lagu dolanan, mengkisahkan peran perempuan sebagai penjaga lingkungan yang tangguh. Lagu Ibu Pertiwi, contohnya merupakan gambaran tentang peran perempuan dalam adaptasi terhadap perubahan iklim,” ungkap Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Dr. Pinky Saptandari.

Perempuan sebagai garda terdepan dalam peningkatkan ketangguhan masyarakat sudah dibuktikan oleh organisasi PATTIRO. Bekerja di desa-desa di Kabupaten Malang, dengan membentuk forum adaptasi perubahan iklim pengurangan risiko bencana (API PRB), dengan mengkaji kerentanan dan potensi yang ada di tiap desa, perempuan juga terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan. Fasilitator Desa dari PATTIRO, Asiswanto Darsono menyampaikan, “Usulan masyarakat, terutama dari kelompok perempuan yaitu pipanisasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang berkontribusi pada pengurangan beban ganda perempuan. Selama ini pemenuhan air dalam rumah tangga menjadi tugas perempuan. Dengan adanya pipanisasi, perempuan menjadi terbantu.” Pipanisasi hanyalah satu dari pilihan-pilihan aksi adaptasi yang ada. Kegiatan lain contohnya adalah pemanenan air hujan yang membuat perempuan tidak perlu khawatir lagi ketika kekeringan datang.

Dengan pembelajaran yang ada, sudah sepatutnya hal ini diperhatikan oleh para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan, terutama agar perempuan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu yang tidak kalah penting adalah pengarusutamaan penganggaran gender di berbagai sektor perangkat daerah karena isu perempuan tidak hanya pekerjaan satu badan tertentu tapi juga multisektoral dan sudah terbukti dapat menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat.

 

----------

Kontak Wawancara:

Irmia Fitriyah – Spesialis Gender Program USAID APIK: Irmia_Fitriyah@dai.com - 0813-5581-9928
Dr. Pinky Saptandari – Dosen Antropologi Universitas Airlangga - pinky.wisjnubroto@gmail.com

Kontak Media: Sheila Kartika – Communication dan Outreach Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) sheila_kartika@dai.com – 0856-887-1996

 

Catatan Editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Interasional Amerika Serikat (USAID) yang bertujuan membantu Indonesia dalam mengelola risiko bencana dan ikilm. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dari level lokal hingga nasional. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK juga bekerja langsung bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses di www.apikindonesia.or.id.
  • PATTIRO merupakan mitra program USAID APIK yang mengimplementasikan program “Pengarusutamaan Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pada Penyusunan Kebijakan dan Perencanaan di Kabupaten Malang” melalui skema Dana Ketangguhan. Informasi lebih lanjut mengenai PATTIRO dapat diakses di http://pattiro.org/