Hasil Penilaian Ketangguhan dan Kajian Kerentanan untuk Kabupaten Mojokerto yang Lebih Tangguh terhadap Bencana dan Iklim

Mojokerto, 11 Agustus 2017. Wilayah Kabupaten Mojokerto memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap ancaman tanah longsor dan banjir. Kekeringan juga kerap kali melanda di daerah perbukitan batuan kapur dan akhir Maret lalu angin puting beliung juga melanda beberapa desa di Kabupaten Mojokerto. Untuk meningkatkan ketangguhan terhadap bencana, program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto menilai ketangguhan kabupaten dan mengkaji kerentanan, serta menghasilkan rekomendasi-rekomendasi strategis rencana aksi daerah.

Bertempat di Gedung Satya Bina Karya, hasil penilaian ketangguhan dan kajian kerentanan disosialisasikan ke berbagai perangkat daerah. Wakil Bupati Mojokerto, Pungkasiadi dalam sambutannya mengatakan, “Saya harap hasil penilaian ketangguhan dan kajian kerentanan ini dapat diimplementasikan dalam membuat kebijakan.” Penilaian ketangguhan telah dilakukan sejak awal 2017 dengan melibatkan berbagai pihak dari pemerintah, sektor swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pihak lainnya. Proses penilaian ketangguhan menggunakan “Sepuluh Langkah Mendasar” yang disandingkan dengan 71 indikator milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Secara umum, hasil penilaian ketangguhan dari Sepuluh Langkah Mendasar sudah cukup baik namun beberapa temuan penting seperti perlunya kajian risiko bencana yang komprehensif dengan mempertimbangkan daerah rawan bencana, perlunya peningkatan ketahanan fasilitas dan infrastruktur penting karena peta risiko yang disusun masih belum menjadi dasar rujukan dalam tata guna lahan dan perencanaan. Masih terdapat beberapa infrastruktur penting seperti rumah sakit dan gedung pemerintah yang dibangun di wilayah berisiko bencana.

Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain perlunya memasukkan faktor-faktor risiko bencana dalam visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, perlu dibentuknya kelompok kerja untuk pengurangan risiko bencana, perlunya rencana kontijensi banjir dan longsor, revisi pedoman penyerapan anggaran belanja untuk kegiatan kebencanaan, perlu adanya peta risiko yang menyeluruh, perlunya Peraturan Daerah tentang Penanggulangan Bencana, dan lain-lain.

Berbeda dengan penilaian ketangguhan yang dilakukan untuk melihat kapasitas dan kebutuhan sementara, kajian kerentanan dilakukan untuk menjadi dasar yang kuat berbasis ilmiah untuk menyusun strategi adaptasi perubahan iklim dan ketangguhan daerah. Hasil kajian kerentanan juga menjadi masukan untuk perencanaan pembangunan daerah yang lebih adaptif terhadap risiko bencana dan iklim. Kajian kerentanan telah dilaksanakan melalui rangkaian lokakarya partisipatif yang melibatkan berbagai para pemangku kepentingan. Berdasarkan kesepakatan para pihak, beberapa sektor yang menjadi prioritas adalah pertanian, peternakan, perikanan budidaya, air bersih, serta penanggulangan bencana banjir dan longsor.

Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK, Ardanti Sutarto mengatakan, “Komitmen berbagai perangkat pemerintah daerah sangat penting untuk bersama-sama menindaklanjuti rekomendasi penilaian ketangguhan dan kajian kerentanan yang dihasilkan dari proses panjang yang melibatkan berbagai pihak ini.”

 

---

Kontak Wawancara: Ardanti Sutarto– Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK: Ardanti_Sutarto@dai.com - 0811-2556-707

Kontak Media: Sheila Kartika – Spesialis Komunikasi Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) sheila_kartika@dai.com – 0856-887-1996

 

Catatan Editor: 

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Interasional Amerika Serikat (USAID) yang bertujuan membantu Indonesia dalam mengelola risiko bencana dan iklim. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dari level lokal hingga nasional. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK juga bekerja langsung bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses di www.apikindonesia.or.id.
  • Sepuluh Langkah Mendasar yang menjadi acuan penilaian adalah: 1) Adanya organisasi untuk ketangguhan terhadap bencana; 2) Adanya alokasi anggaran untuk pengurangan risiko bencana; 3) Adanya identifikasi, pemahaman, dan penggunaan risiko saat ini dan masa mendatang; 4) Mengupayakan pembangunan dan rancangan kota/kabupaten yang tangguh; 5) Melindungi penyangga alami untuk meningkatkan fungsi perlindungan oleh ekosistem; 6) Memperkuat kapasitas kelembagaan untuk ketangguhan; 7) Memahami dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk mewujudkan ketangguhan; 8) Meningkatkan ketangguhan infrastruktur; 9) Memastikan kesiapsiagaan dan tanggap bencana yang efektif; 10) Mempercepat pemulihan dan pembangunan kembali dengan lebih baik.
  • Dokumen penilaian ketangguhan dan kajian kerentanan yang sudah difinalisasi akan dapat diakses melalui www.apikindonesia.or.id