Akses Informasi Cuaca dan Iklim untuk Ketahanan Pangan dan Petani yang Lebih Sejahtera

Kendari, 24 September 2017. Tanggal 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional untuk memperingati kebangkitan kaum petani. Selain masalah tanah dan agraria, para petani juga harus berhadapan dengan risiko bencana dan iklim yang membuat mereka semakin terpinggirkan. Kekeringan panjang, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan banjir dapat menyebabkan gagal panen. Untuk menjawab tantangan tersebut, program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang diinisiasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memberikan akses informasi cuaca dan iklim kepada petani. Dengan mengetahui kapan musim hujan, kekeringan, dan kapan fenomena seperti El Nino dan La Nina datang, petani dapat mensiasati praktek pertaniannya dan beradaptasi dengan cuaca ekstrem.

Informasi cuaca dan iklim yang selama ini disediakan oleh BMKG, sayangnya tidak sampai langsung kepada mereka yang membutuhkan seperti petani. Padahal perubahan iklim yang terjadi saat ini sangat dirasakan dampaknya oleh petani. “Unsur cuaca dan iklim sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan produktivitas komoditi pertanian. Kekeringan dan banjir mengakibatkan gagal panen atau puso, dan juga dapat memicu perkembangan OPT,” jelas Samuel Petrus Lewi, Koordinator Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Pengamat Hama dan Penyakit (POPT-PHP). Hal tersebut diamini oleh Arif, petani asal Kelurahan Baruga, Kota Kendari yang mengatakan, “Pernah di tahun 2015 itu kekeringan panjang [dan akhirnya] gagal panen. Seandainya waktu itu kita tahu akan kekeringan, kita tidak akan tanam padi tapi mungkin palawija yang lebih tahan panas.”

USAID APIK bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Ranomeeto, Dinas Pertanian Kota Kendari, Penyuluh Pertanian Kelurahan Baruga, Balai Proteksi Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) pertanian di Kelurahan Baruga sejak bulan Juli lalu. Sebanyak 30 orang petani dari berbagai kelompok menjadi peserta dan belajar di ‘sawah laboratorium’ seluas 2500m2. Mereka belajar mengenai cara mengakses, membaca, dan memanfaatkan informasi cuaca dan iklim untuk kegiatan pertanian mereka. Setelah kegiatan SLI selesai, para petani dapat mengukur curah hujan secara mandiri menggunakan alat penakar hujan sederhana dan mengamati parameter lingkungan lain seperti suhu dan kelembaban yang berpengaruh terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mungkin menyerang tanaman mereka. Selain itu, mereka juga dapat mengetahui prakiraan musim, kapan waktu yang tepat untuk menanam sebagai antisipasi fenomena cuaca ekstrem dan pada akhirnya mengantisipasi kemungkinan gagal panen.

Bertepatan dengan Hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September, kelas SLI sesi ke-8 dari rangkaian 10 kelas ini, para petani belajar menganalisis usaha tani. Meski SLI belum usai dan tuntas, namun para petani telah merasakan manfaat dari ilmu pengetahuan yang diberikan dalam setiap kelasnya. Petani perempuan yang menjadi salah satu peserta SLI mengatakan, “Kita jadi tahu sekarang bisa mengukur kelembaban. Kalau kelembaban tinggi maka penyakit blas akan lebih mungkin menyerang. Sekarang kita tahu ambang batasnya kapan harus menyemprot fungisida. [SLI] Banyak manfaatnya, kita jadi memperhatikan tanda-tanda hujan yang sangat berguna bagi petani.”

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh kaum petani, Manajer Regional Program USAID APIK Sulawesi Tenggara, Buttu Madika mengajak para pihak untuk bersama-sama bekerja untuk para petani mengikuti apa yang telah dicapai melalui kegiatan SLI. “Sudah terbukti dengan memberikan akses informasi cuaca dan iklim kepada petani dapat membantu meningkatkan kapasitas adaptif mereka dalam menghadapi cuaca ekstrem. Program USAID APIK akan terus bekerja untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat terutama seperti petani yang paling rentan dan kami mendorong seluruh pihak dan instansi terkait untuk bersama-sama bekerja. Di Hari Tani Nasional ini, baiklah menjadi pengingat bahwa kesejahteraan petani harus meningkat karena merekalah juga yang menjadi aktor utama untuk mewujudkan ketahanan pangan bagi masyarakat luas.”

--

KONTAK WAWANCARA:

  • Koordinator Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Pengamat Hama dan Penyakit: Samuel Petrus Lewi 0822-9006-9762
  • Manajer Regional Program USAID APIK Sulawesi Tenggara: Buttu Madika: Buttu_Madika@dai.com atau 0852-5529-7282

CATATAN EDITOR:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Interasional Amerika Serikat (USAID) yang bertujuan membantu Indonesia dalam mengelola risiko bencana dan iklim. USAID APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dari level lokal hingga nasional. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, USAID APIK juga bekerja langsung bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut mengenai USAID APIK dapat diakses di www.apikindonesia.or.id.