Kampung Air

Tepat pukul sembilan pagi itu kami berkumpul di kantor Kelurahan Kampung Salo, Kota Kendari yang menurut kajian kerentanan yang kami lakukan tergolong rawan banjir. Kami bermaksud melakukan kegiatan survei rencana pemasangan sensor untuk sistem peringatan dini banjir. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing awal untuk kegiatan hari itu. Malam tadi, saya sempat melihat prediksi cuaca rilisan BMKG yang menyatakan bahwa pagi dan siang ini cuacanya berawan. Untuk membandingkan, saya juga cek aplikasi Accuweather bawaan google, dan menunjukan bahwa esok hari akan hujan lebat dari pagi sampai malam. Mana yang benar? Paling tidak, pagi ini prediksi dari BMKG masih unggul, karena kondisi Kota Kendari dan Kampung Salo hari itu berawan.

Kampung Salo berarti Kampung Air. Kata ‘salo’ dalam bahasa Bugis berarti air. Mungkin dahulu wilayah ini dinamakan kampung air karena secara geografis kaya akan sumber air dari beberapa anak sungai di hulu. Anak-anak sungai tersebut saat ini sebagian masuk wilayah Tahura Nipa-nipa, Kelurahan Gunung Jati, dan Kelurahan Mangga Dua. Bagi yang pernah berkunjung ke Kampung Salo, tidak sulit membayangkan bahwa wilayah ini seperti sebuah mangkuk, dengan pemukiman dikelilingi oleh bukit-bukit, namun sayangnya wilayah tersebut juga tempat bermuaranya banyak anak sungai. Idealnya air yang lewat langsung dapat mengalir ke laut. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, populasi Kampung Salo semakin meningkat. Pemukiman menjadi semakin padat, dan ruang untuk mengalirkan air ke laut semakin sempit, sehingga mengakibatkan banjir yang hampir terjadi setiap tahun di kelurahan ini.

Wilayah Kampung Salo, dilihat dari udara
Wilayah Kampung Salo, dilihat dari udara

Kembali ke survei. Peserta survei terdiri dari 10 orang yang terdiri dari staf USAID APIK, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, staf Tahura Nipa-nipa, dan Kelompok Siaga Bencana Kampung Salo. Di awal briefing, perwakilan Balai Wilayah Sungai hadir, namun karena wilayah hulu (yang akan disurvei) bukan merupakan kewenangan mereka dan ada kegiatan lain, maka mereka tidak mengikuti jalannya survei. Kami pun membagi menjadi dua grup, masing-masing terdiri dari lima orang yang berencana untuk bergerak menyusuri dua aliran sungai yang bermuara ke Kampung Salo. Jika dilihat di peta, sungai tersebut terus berhulu ke arah Kelurahan Mangga Dua. Satu lagi –saya lupa menanyakan nama sungainya– yang mengarah ke barat, tapi aliran tersebut berhulu di Kelurahan Gunung Jati.

Peta Wilayah Kampung Salo dan Hulu
Peta Wilayah Kampung Salo dan Hulu

Sebelum berangkat, saya sempat memasang modul LoRa di atas menara masjid untuk menguji jangkauannya. Modul LoRa  tersebut hanya terdiri dari dua perangkat sederhana: satu berfungsi sebagai semacam gateway, yang satu lagi akan saya bawa menuju ke hulu, untuk mengetahui cakupan jangkauan sinyal LoRa dari masjid. Di kota, mitra APIK dari Aplikasi Cerdas Indonesia sudah menguji jangkauan LoRa tersebut, dan hanya dapat terdeteksi sampai radius 1 km dengan kondisi wilayah pemukiman. Tentu saja perangkat ini spesifikasinya akan sangat berbeda dengan apa yang akan nanti kami pasang, yakni LoRa gateway dengan spesifikasi jangkauan idealnya yang lebih dari 5 km. Dalam kesempatan ini, kami hanya mencoba jangkauannya di wilayah berkontur perbukitan dan hutan yang akan sangat berbeda dengan kondisi di perkotaan. Medan yang akan kami tempuh ini adalah menyusuri sungai ke hulu yang memasuki wilayah Taman Hutan Raya Nipa-nipa, dengan kondisi pepohonan yang lebat di kiri-kanan sungai dan terhalang perbukitan.

LoRa Module yang kami pasang di menara masjid
LoRa Module yang kami pasang di menara masjid

Dimulai dari masjid, yang juga berlokasi tepat di titik pertemuan kedua sungai tadi, dua grup kami berjalan ke arah yang berlawanan. Tim saya beranggotakan dua orang staf dari Tahura, dan dua orang dari BPBD. Tepat pukul 11.15 WITA, kami berangkat. Saya pun menyalakan aplikasi My Tracks, aplikasi pelacakan berbasis Android yang saya unduh pagi tadi. Aplikasi ini cukup ampuh digunakan untuk kegiatan survei seperti ini yang walau luring (offline), masih dapat merekam posisi selama perjalanan asalkan GPS ponsel masih terdeteksi.  Aplikasi sejenis pernah saya gunakan juga ketika survei di Mojokerto. Selain itu aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur tag lokasi, serta foto ber-geotag yang dapat langsung muncul pada peta. Agar ponsel tetap menyala, tentu saja saya tak lupa membawa power bank.

Aplikasi My Tracks
Aplikasi My Tracks

Kami mulai berjalan menyusuri sungai tersebut. Saat mulai lepas dari batas permukiman, kami masuk ke wilayah sungai yang kiri-kanannya dinaungi pepohonan. Di batas tersebut, nampak ibu-ibu melakukan kegiatan cuci pakaian di sungai. Sayangnya ibu-ibu tersebut masih membuang bungkus detergennya di sungai. Berlanjut terus ke hulu, cuaca mulai terlihat mendung. Saya sempat memperhatikan citra satelit BMKG tadi pagi. Terlihat tutupan awan tebal menyelimuti wilayah wilayah Konawe (batas utara Kota Kendari). Sekarang tinggal berdoa saja angin tidak bertiup ke arah selatan. Jika iya, maka awan-awan tebal tersebut akan berhembus memasuki wilayah Tahura dan dapat berimbas terjadinya hujan di jalur survei kami. Kelurahan Kampung Salo kebetulan bersebelahan dengan Kelurahan Mangga Dua dan Gunung Jati yang berberbatasan langsung dengan Kabupaten Konawe (Kecamatan Soropia). Sementara itu sebagian besar wilayah Mangga Dua dan Gunung Jati di sebelah utara merupakan wilayah Tahura Nipa-nipa.

Kondisi aliran Sungai Salo
Kondisi aliran Sungai Salo

Sekitar satu jam kami berjalan, sempat dua kali beristirahat. Sepanjang perjalanan cukup terhibur dengan suasana sungai dan hutan yang masih alami. Terlihat di sepanjang sisi sungai tersebut terdapat pipa-pipa warga Kampung Salo yang mengalirkan air dari hulu. Di satu lokasi, terdapat bak penampungan yang entah siapa yang membangun dan untuk apa. Profil kontur tanah di kiri-kanan sungai tergolong curam, apalagi di sisi timur. Staf Tahura sempat menunjukan beberapa titik di sisi timur sungai yang kondisi tanahnya curam dan terdapat aliran-aliran kecil yang diduga berasal dari wilayah Kelurahan Gunung Jati. Staf Tahura menyebutkan bahwa saat hujan deras, air dari aliran tersebut mengalir mengisi ceruk-ceruk sungai utama dan berakibat pada peningkatan debit Sungai Salo. Tidak jelas berapa potensi debit dapat yang masuk ke aliran utama tersebut. Saat ini belum ada yang menganalisis hal itu. Beberapa staf Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV yang ikut briefing tadi pagi, mengatakan bahwa anak-anak sungai di hulu tersebut bukan kewenangan mereka.

Salah satu aliran yang bermuara ke Sungai Salo
Salah satu aliran yang bermuara ke Sungai Salo

Sayangnya saat ini batas-batas kewenangan tersebut masih terlihat kasar di atas peta. Namun di lapangan, staf Tahura sempat memperlihatkan patok-patok batas wilayah Tahura, dan wilayah kelurahan. Wilayah hutan yang bukan masuk wilayah Tahura, oleh sebagian warga digarap untuk beragam kebutuhan. Menurut kabar warga Kampung Salo, terjadi pembalakan liar di beberapa area di wilayah di hulu. Bagi saya ini merupakan pekerjaan rumah pengelola Tahura Nipa-nipa, untuk membuat peta dengan resolusi tinggi untuk batas-batas tersebut. Dengan metode dan peralatan sederhana yang saya sebutkan tadi di atas, hal ini sangat memungkinkan dilakukan dengan usaha yang tidak terlalu memakan biaya dan waktu. Dengan adanya peta ini, seharusnya usaha-usaha identifikasi dan penindakan pembalakan liar dapat terbantu, sehingga normalisasi fungsi DAS di hulu dapat dilakukan.

Salah satu patok batas antara wilayah Tahura dan Kelurahan Gunung Jati
Salah satu patok batas antara wilayah Tahura dan Kelurahan Gunung Jati

Salah satu tujuan kami melakukan survei ini adalah menunjukan cara pemetaan alur sungai dengan metode sederhana, yang ke depannya dapat berfungsi untuk menganalisis aspek hidrologi sungai-sungai kecil yang bermuara ke Kampung Salo. Karena sampai saat ini, baik pihak Tahura, BWS atau pun Dinas Pekerjaan Umum Kota Kendari tidak ada yang tahu pasti bagaimana profil aliran sungai-sungai tersebut. Dinas Kota Kendari sempat berargumen bahwa itu bukan wilayah kerja mereka. Namun sayangnya belum ada peta resolusi tinggi yang menggambarkan batas antar kelurahan dan Tahura. Demikian juga dengan peta aliran sungai resolusi tinggi dan profil hidrologinya. Hal ini juga yang menyebabkan kami kesulitan dalam menganalisis aspek hidrolgi Kampung Salo. Agak sulit mengidentifikasi sub-catchment wilayah ini akibat keterbatasan data spasial untuk aliran dan sub-catchement. Demikian juga dengan data-data profil hidrologinya. Peta di atas menunjukan batas wilayah Tahura yang saya dapatkan dari pihak Tahura, Batas Administrasi Kelurahan dari Bappeda, dan profil sungai dari BWS. Seperti yang bisa dilihat, resolusinya sangat kasar dan sulit digunakan untuk perhitungan analisis debit.

Dilihat kewenangannya, Tahura, Balai Pengelolaan DAS dan BWS memegang peranan di wilayah tingkat provinsi. Jadi untuk wilayah Nipa-nipa, seharusnya profil sungai tersebut merupakan tanggung jawab mereka untuk memetakannya. Sedangkan untuk wilayah sungai yang sudah masuk wilayah Kota Kendari merupakan kewenangan Dinas PU untuk mengelolanya. Pengelolaan sungai-sungai kecil seperti ini seringkali terabaikan oleh pemerintah daerah. Padahal, aliran sungai-sungai kecil ini dampaknya juga sangat signifikan terhadap peningkatan risiko bencana hidrometeorologis bagi warga sekitar. Terlebih lagi untuk kontur wilayah seperti Kota Kendari atau Kota Ambon yang memiliki tipe bentang alam serupa, populasi penduduk di bibir pantai dan perbukitan curam. Sungai kering saat kemarau dan berpotensi membawa air bah pada musim hujan. Batas yang tidak jelas dapat menyebabkan pembalakan liar yang disengaja maupun tidak disengaja. Potensi terjadinya konflik ruang akan semakin besar.

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan, kami tiba di posisi yang agak sedikit terbuka. Saya cek sinyal ponsel, dan ternyata terdeteksi. Kemudian saya memeriksa posisi tersebut di peta digital, dan ternyata kami berdiri tidak terlalu jauh dari posisi jalan di kelurahan Gunung Jati. Dugaan saya, kami sudah memasuki wilayah Kelurahan Gunung Jati, namun posisinya berada di lembah. Sementara posisi jalan tersebut berada di kontur yang lebih tinggi. Saya sempat lega karena sepanjang jalan tadi sinyal LoRa dan GPS tidak terdeteksi. Jarak dari Kampung Salo adalah sekitar 2,1 km. Saya rasa di titik ini cukup memungkinkan untuk dipasang sensor. Kami belum dapat kabar terbaru dari tim  yang lain, namun mudah-mudahan titik pemasangan juga ditemukan di sana.

Lokasi rencana pemasangan sensor
Lokasi rencana pemasangan sensor

Kami memutuskan untuk kembali ke Kantor Kelurahan, karena kondisi cuaca pada saat itu hujan. Kami tiba di Kantor kelurahan sekitar pukul 13:00 WITA. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, selain kondisinya menurun, jalur yang kami lewati juga sudah familiar. Sesampainya di kantor kelurahan dan bergabung dengan tim lainnya, Pak Ikhsan dari tim satunya sempat meng-update hasil tracking timnya, ternyata kondisi aliran yang mereka lalui lebih curam. Sampai di satu titik sumber aliran tersebut berhulu di Kelurahan Mangga Dua. Saya belum mengidentifikasi lebih lanjut apakah aliran tersebut berhenti sampai di situ, atau masih terdapat sumber-sumber di hulu, tapi pada survey selanjutnya akan coba kami lanjutkan untuk menganalisa lebih lanjut kondisi sub-catchment wilayah tersebut.

Pasca survei, kami sempat memanfaatkan drone untuk memperoleh gambar tampak atas wilayah tersebut. Saat drone bergerak ke arah hulu, nampak sebagian wilayah hutan di perbukitan telah ditebangi.  Kami belum dapat mengidentifikasi lebih lanjut, apakah wilayah tersebut masuk wilayah Tahura, atau wilayah Kelurahan Gunung Jati. Dengan tidak lengkapnya data batas resolusi tinggi, akan menyulitkan untuk mengidentifikasi hal tersebut. Yang jelas hal ini akan kami laporkan pada pihak Tahura. Paling tidak seharusnya dapat mengidentifikasi area tersebut berdasarkan patok-patok di lapangan. Saya teringat saat pertama kali mengunjungi wilayah Kampung Salo, seorang ibu bercerita, semakin hari banjir semakin sering terjadi yang disebabkan oleh pembalakan liar di wilayah hulu (perbukitan), dan hal ini telah disampaikan ke pemerintah daerah. Isu hulu-hilir seperti ini banyak terdapat di desa-desa dampingan APIK lainnya termasuk di Jawa Timur atau pun Maluku. Banjir dan longsor terjadi di wilayah sub-DAS yang dilalui sungai-sungai kecil berhulu di wilayah perbukitan yang seringkali merupakan wilayah konservasi (Taman Hutan Raya).

Wilayah hutan di hulu yang ditebangi
Wilayah hutan di hulu yang ditebangi

Hal ini memunculkan ide saya untuk mendorong pemanfaatan drone untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah pelanggaran tata guna lahan. Hal ini tentu saja untuk memperkuat batas-batas Tahura dan hutan masyarakat. Ke depannya, data-data survei yang layak seharusnya dapat mendukung pengelolaan batas guna lahan dan pengelolaan DAS dari hulu ke hilir, sehingga dapat memperkecil risiko bencana banjir, longsor dan isu sumber daya air di suatu kawasan. Jika kita masih percaya bahwa risiko adalah hubungan antara kerentanan, ancaman, paparan, dan kapasitas, maka kita memiliki peluang untuk  memperkecil luasan paparan dan meminimalisir ancaman dengan mengidentifikasi batas-batas tersebut secara rinci dan menerapkan penataan ruang dan penggunaan lahan dengan benar.

Catatan: Sinyal modul LoRa yang kami gunakan langsung hilang saat masuk ke wilayah hutan. Dugaan kami selain terhalang oleh pepohonan dan perbukitan. Sinyal tersebut hilang pada saat posisi kami sampai di balik bukit. Dengan demikian, di survei berikutnya, kami perlu membawa ‘senjata’ yang lebih besar!

Jangkauan sinyal LoRa
Jangkauan sinyal LoRa

Foto Lainnya

Briefing pagi
Briefing pagi

Tim Survey siap untuk berangkat
Tim Survey siap untuk berangkat

Contoh saluran yang sudah berada di pemukiman Kampung Salo
Contoh saluran yang sudah berada di pemukiman Kampung Salo

Penerbangan Drone, untuk mengambil sudut pandang dari udara
Penerbangan Drone, untuk mengambil sudut pandang dari udara