Semangat Membangun Ketangguhan dari Pelosok Saparua

Bu Bace tekun mendengarkan. Sesekali tangannya bergerak teratur menulis catatan dalam buku kecil miliknya agar ia tak lupa materi yang disampaikan. Bu Bace adalah  guru sekolah  Sekolah Dasar di Pulau Haruku. Ia adalah salah satu  perwakilan kelompok kerja masyarakat (Pokmas) Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana. Ia meluangkan  waktunya di antara jadwal mengajar untuk bersiap menjadi  fasilitator, tugas mulia  yang diembannya untuk memandu kegiatan kajian risiko  iklim dan bencana di Negerinya.  Udara lembab  di ruang  berventilasi terbatas   tidak menghalangi semangatnya untuk belajar. Selama tiga hari Bu Bace menjadi peserta aktif dalam pelatihan bagi fasilitator kajian risiko bencana partisipatif yang dilaksanakan di Pulau Saparua, Maluku.  

“Di Negeri* Wassu, perempuan memegang peranan penting dalam adaptasi. Sebelum musim gelombang tinggi, mereka sudah menyiapkan segala kebutuhan. Yang unik, perempuan menyiapkan lauk pengganti ikan yang sulit didapat pada musim Timur dengan membuat laor [cacing laut], memanen rumput yang tumbuh di tanjung-tanjung,” Bu Bace bercerita mengenai peran perempuan dalam aksi adaptasi yang ada di masyarakat.

Selain Bu Bace, ada pula peserta pelatihan yang terlihat berbeda dengan menggunakan seragam TNI. Dialah Abdul Patty, anggota Barisan Bintara Pembina Desa (Babinsa).  Keterlibatannya adalah bagian dari upaya USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) untuk menyinergikan kegiatan  konservasi  laut dan hutan yang digawangi oleh Babinsa di negeri sebagai bagian dari upaya adaptasi. Seperti peserta lain, Bung Patty hadir secara penuh dan bersiap menjadi fasilitator.

Total 30 peserta mewakili Negeri Morela, Wasu, Haruku, Ameth, Sirisori Islam dan Ihamahu mengikuti sesi pelatihan untuk fasilitator kajian risiko bencana partisipatif. Pelatihan yang diselenggarakan USAID APIK dari 18 hingga 20 Mei 2017 ini merupakan tahap awal proses kajian risiko bencana di tingkat komunitas. Kajian risiko yang dihasilkan nantinya akan menjadi acuan dasar untuk merancang rencana aksi bagi masyarakat dalam upaya adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Peserta pelatihan merupakan anggota dari Pokmas di enam desa yang menjadi wilayah kerja USAID APIK.

Pelatihan diselenggarakan di Balai Serbaguna Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran, satu-satunya tempat yang representatif untuk digunakan di Pulau Saparua. Lokasinya pun cukup jauh dari pusat kota dan pemukiman. Sepanjang hari generator bermesin diesel bekerja membangkitkan daya listrik untuk memasok kebutuhan selama pelatihan berlangsung. Lokasi ini memang belum terjangkau oleh  listrik. Dalam sehari, sekali dua kali generator mati diiringi padamnya aliran listrik akibat kehabisan bahan bakar. 

image1_0.JPG
Para peserta pelaithan sedang membuat peta sketsa dalam sesi praktik kelompok.

Tim USAID APIK yang menjadi pelatih harus menyesuaikan metode penyampaian materi  tanpa alat bantu bertenaga listrik. Untung saja,  antusiasme peserta membuat semangat tim USAID APIK tak surut. Pelatih menerapkan berbagai teknik penyampaian materi  dari  ceramah, praktik penggunaan alat dalam kelas, dan uji coba di komunitas.  Meski tanpa komando, peserta seringkali berinisiatif mengisi sela waktu dengan hiburan  bernafas  lokal. Joget dan bernyanyi menjadi kegiatan wajib yang tidak terlepas saat jeda antar materi yang  padat. Segala keterbatasan tidak menyurutkan semangat pelatih dan peserta.

Muatan utama materi pelatihan adalah  pengenalan  piranti  kaji  kerentanan dan risiko secara partipatif.  Penggalian informasi menggunakan media kerja visual  diharapkan bisa membantu memudahkan penggalian informasi di komunitas. Informasi yang dikumpulkan antara lain berupa peta sketsa, kalender musim, matriks perubahan iklim dan cuaca, sejarah kejadian bencana dan dampak, mengenali kapasitas adaptasi dan beberapa  perangkat lain untuk mengurai komponen kerentanan dan risiko.

Tiga hari pelatihan telah diselesaikan. Seluruh peserta sudah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dasar. Mereka akan bertugas sebagai fasilitator dalam pelaksanaan survei awal dan akhir ketangguhan masyarakat. Langkah berikutnya adalah memfasilitasi kajian  di tingkat masyarakat. Tentu saja proses belajar masih  panjang.  Pelatihan demi pelatihan masih diperlukan sebelum akhirnya kajian bisa diterapkan di komunitas. Bersama USAID APIK, langkah permulaan sudah  ditapaki. Semoga para fasilitator ini bisa menjadi katalis untuk mewujudkan cita-cita ketangguhan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim  dan risiko bencana.  Langkah besar selalui diawali dengan satu langkah kecil.

*Negeri adalah satuan wilayah setingkat desa. 

Oleh: Suryani Amin - Penasihat Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat