Fasilitator Masyarakat Belajar Langsung tentang Bencana di Desa Semen

Ada yang berbeda dengan kegiatan pelatihan di Kabupaten Blitar kali ini. Biasanya kegiatan dilakukan di dalam ruangan berpendingin udara, namun kali ini pelatihan dilakukan di desa dengan suasananya yang khas. Berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Blitar, pelatihan diselenggarakan di Desa Semen yang berada di lereng antara Gunung Kelud dan Kawi dengan ketinggian lebih dari 1.700 meter di atas permukaan laut. Dengan luas sekitar seribu hektar, desa ini terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Parang, Tegalrejo, Semen, dan Dewi. Kondisi topografi Desa Semen yang terletak di dataran tinggi dan lereng serta dilewati Sungai Lekso, sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas menjadikannya rentan terhadap ancaman longsor dan banjir lahar dingin dari Gunung kelud. 

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) mengadakan Pelatihan Fasilitator Kajian Risiko Bencana Partisipatif Komunitas pada tanggal 25 hingga 29 Juli 2017. Pelatihan ini dihadiri oleh 25 peserta yang terdiri dari perwakilan masyarakat Desa Semen, Kecamatan Gandusari dan Kelurahan Sutojayan, Kecamatan Sutojayan. Selain perwakilan masyarakat, perwakilan Organisasi Perangkat Daerah turut hadir, seperti adalah Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan Gandusari dan Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan Sutojayan.  Pelatihan ini juga melibatkan tim  Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) yang merupakan mitra dari USAID APIK pelaksana program hibah melalui skema Dana Ketangguhan.

Dalam pelatihan ini, para peserta belajar banyak hal antara lain mengenai konsep dasar perubahan iklim; pengurangan risiko bencana dan ketangguhan; sistem pemerintahan daerah dan integrasi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana (API PRB) dalam sistem perencanaan dan penganggaran desa; persiapan kajian; pembuatan profil kawasan dan kebencanaan; penggalian perubahan-perubahan wilayah dan ancaman bencana; penilaian risiko, ancaman, kerentanan, dan kapasitas komunitas; penilaian dampak perubahan iklim; serta penyusunan rencana aksi komunitas.

“Dengan pelatihan ini para peserta mampu memahami piranti kajian risiko bencana partisipatif. Pelatihan akan butuh partisipasi peserta dengan presentasi, tanya jawab, diskusi, simulasi, dan praktek lapangan. Peserta belajar tentang metode, teknik dan alat-alat kaji yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan  kajian,”  ungkap Kepala Subdit Identifikasi dan Analisis Kerentanan Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan , Ir. Arif Wibowo, M.Sc. selaku narasumber pelatihan. Pelatihan ini juga dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar, Ir. M. Krisna Triatmanto, Msi. Selain itu hadir pula sebagai narasumber untuk memperkaya ilmu para peserta: Kepala Bidang Prasarana Wilayah BAPPEDA Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko dan dari tim USAID APIK Spesialis Gender Irmia Fitriyah; Spesialis Tata Kelola Regional Jawa Timur, Herry Susanto; Penasihat Adaptasi Berbasis Masyarakat , Suryani Amin; dan Spesialis Adaptasi Berbasis Komunitas Regional Jawa Timur, Wahyu Sutisna. Seluruh sesi pelatihan difasilitasi bersama oleh tim Koordinator Lapangan USAID APIK Jawa Timur.

Pelatihan diakhiri dengan penyusunan rencana kerja tindak lanjut yang akan dilaksanakan di masing-masing desa/kelurahan. Para peserta kini telah siap untuk menjadi agen utama untuk membangun ketangguhan desa terhadap dampak perubahan iklim dan bencana.