Berlatih Siaga Bencana Sejak Usia Dini

Di Provinsi Jawa Timur, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja menggunakan pendekatan bentang lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sebagai salah satu area hulu sekaligus sumber Sungai Brantas, Kota Batu memiliki peran penting. Di saat yang bersamaan, kota yang terkenal sebagai destinasi pariwisata ini juga memiliki risiko bencana utama yang dihadapi yaitu longsor dan banjir.

Ketika terjadi bencana, anak-anak merupakan kelompok yang rentan. Untuk mempersiapkan kelompok rentan ini dalam menghadapi bencana, USAID APIK menganggap penting bagi mereka untuk berlatih dan memiliki keterampilan untuk tidak hanya menghadapi bencana tetapi juga mengelola risiko bencana yang ada.

Sebagai bagian dari rangkaian Festival Brantas, sekaligus memperingati Hari Bumi yang dirayakan setiap 22 April dan Hari Kesiapsiagaan Nasional yang ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setiap 26 April, USAID APIK menyelenggarakan kegiatan Perkemahan Sekolah untuk Kesiapsiagaan. Kegiatan ini diselenggarakan pada akhir pekan tanggal 22 23  April 2017 di Lapangan Sisir, Kota Batu.

Sebanyak 238 murid perwakilan dari beberapa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan perwakilan Forum Anak dari 24 desa/ kelurahan se-Kota Batu mengikuti acara  ini. Acara ini didukung oleh berbagai jajaran pemerintah serta kelompok mahasiswa dan para peduli lingkungan dan bencana. Walikota Batu Eddy Rumpoko turut hadir sebagai inspektur upacara untuk membuka kegiatan Perkemahan Sekolah. Dalam sambutannya, beliau mengajak generasi muda untuk menjaga ekosistem Sungai Brantas dan meningkatkan kepedulian pada lingkungan hidup di sekitar serta menghimbau masyarakat, “Saya juga akan terus mengingatkan, tidak hanya kepada warga Kelurahan Sisir, juga kepada seluruh warga Kota Batu bahwa Sungai Brantas adalah sungai yang memberi kehidupan banyak orang, mengaliri 14 Kota Kapubaten dengan hulu yang berada di Kota Batu tepatnya di Desa Sumber Brantas.” Kelestarian dan tata kelola Sungai Brantas yang baik merupakan salah satu kunci untuk mengurangi risiko bencana banjir dan longsor yang mengancam masyarakat Kota Batu.

Selama dua hari, para peserta Perkemahan Sekolah Untuk Kesiapsiagaan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai kebencanaan yang dibalut dalam suasana yang penuh keceriaan di dalam tenda.  Palang Merah Indonesia (PMI) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga melatih para peserta agar mereka dapat memahami dan melakukan pertolongan pertama dalam kecelakaan (P3K) dan berlatih mengelola dapur umum ketika bencana terjadi. Semua pengetahuan dan keterampilan yang diberikan mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi yang tidak lagi rentan tetapi berdaya dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Selain itu, para peserta juga melakukan aksi langsung dengan turun memungut sampah di sektiar lokasi perkemahan dan sungai serta menanam pohon di sekitar lokasi dan sempadan Sungai Brantas. USAID APIK percaya setelah memiliki keterampilan kesiapsiagaan bencana, para pemuda-pemudi akan menjadi lebih tangguh dan dapat membawa pesan ke lingkungan sekitarnya. Aksi langsung yang dilakukan juga akan menanamkan kesadaran akan pentingnya mengurangi risiko bencana melalui berbagai cara mulai dari hal kecil.

USAID APIK percaya kelompok yang rentan dalam bencana tidak semata dipandang sebagai korban saja tetapi harus diberdayakan agar lebih tangguh.  USAID APIK akan terus bekerja bersama generasi muda untuk melahirkan agen-agen peningkatan ketangguhan. Selain kegiatan perkemahan, di Kota Batu, USAID APIK juga berkunjung ke sekolah-sekolah Adiwiyata di Kota Malang.

(Penulis: Lina Irawati dan Estu Wydiawati/ Foto Kredit: Dwi Prihanto)