Berbisnis dengan Menggunakan Layanan Informasi Cuaca dan Iklim

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merupakan instansi penyelanggara yang bertanggung jawab dalam penyebaran informasi mengenai pengelolaan informasi iklim dan cuaca. BMKG bertanggung jawab untuk menyiapkan dan menyebarkan informasi sedini mungkin bagi masyarakat pengguna jasa agar dapat melakukan perencanaan kegiatan mereka terkait degan kegiatan kondisi cuaca atau iklim masa datang. Sayangnya layanan informasi cuaca dan iklim belum diakses secara maksimal terutama di kalangan penggerak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Untuk itu USAID APIK bersama BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro mensosialisasikan penggunaan layanan informasi cuaca dan iklim di Malang pada 24 Mei 2017.

Dalam acara yang dihadiri oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Bappeda, BMKG Malang, Bidang Pencegahan dan Kesipasiagaan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, dan pelaku usaha UMKM setempat ini, para peserta belajar mengenai kebijakan strategis prioritas pembangunan Kabupaten Malang dan profil bencana dan kerentanan iklim di Kabupaten Malang. Dalam kesempatan ini, BMKG juga memperkenalkan profil dan produk-produk BMKG, memberikan pelatihan cara membaca dan menggunakan informasi dari BMKG untuk keperluan UMKM dan cara membaca dan menggunakan informasi dari BMKG. Mohammad Fadli, selaku Penasehat Layanan Cuaca dan Iklim USAID APIK menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi kalangan UMKM di Malang. “Dengan kegiatan ini, kesadaran akan perubahan iklim dan bahaya bencana hidrometeorologis dan bagaimana menanggapinya meningkat. Disini BMKG juga akan mengenalkan mengenai proses terjadinya cuaca dan iklim dan bagaimana penggunaan layanan informasi cuaca dan iklim BMKG. Sehingga pelaku usaha UMKM dapat menjalankan usahanya dengan berkelanjutan,” kata Fadli. 

Sekitar 32 peserta hadir dalam kegiatan sosialisasi ini. Keseluruhan UMKM yang hadir mayoritas bergerak di bidang makanan dan minuman namun ada juga pelaku-pelaku usaha UMKM di bidang lain, seperti bangunan. Mayoritas para peserta berbisnis kerupuk, rengginang, penggilingan padi, batu bata, dan genteng. Mereka sangat bergantung pada cuaca karena salah satu proses bisnis mereka ada proses penjemuran dan pengeringan dimana sangat bergantung pada ketersediaan matahari. Sedangkan pada kenyataannya musim hujan dan musim kemarau terkadang tidak menentu. Para peserta merasakan pentingnya produk informasi cuaca iklim ini karena sangat membantu mereka untuk menyiasati jika tidak ada matahari untuk proses penjemuran dan pengeringan.

 “Usaha kerupuk saya mengandalkan sinar matahari. Biasanya sehari saya bisa memproduksi 5 kuintal kerupuk. Belajar mengenai iklim membuat saya dapat menyiasati kapan saya bisa menjemur dan mengeringkan kerupuk dengan bantuan matahari atau mesin pengering. Kendala saya adalah jika menggunakan mesin pengering hanya mampu mengeringkan sekitar 2,3—3 kuintal dan harga mesin pengering mahal sekali sekitar 30 juta," ungkap pengusaha kerupuk, Ibu Suciarni dari Kelurahan Ardirejo, Malang.

Tidak sedikit usaha yang mengandalkan informasi iklim dan cuaca, para peserta yang mengikuti kegiatan ini setuju untuk secara aktif menggunakan produk informasi BMKG di keseharian kegiatan produksi usaha UMKM mereka. Melihat urgensi manfaat layanan informasi iklim dan cuaca bagi para pelaku UMKM, diharapkan para pelaku UMKM juga dapat turut menyebarkan penggunaan layanan informasi iklim dan cuaca.

(Penulis: Shinta Sarie/ Foto Kredit: Syaiful Rizal)