Suara Perempuan dari Negeri Ameth

Siang ini di Negeri Ameth, kami  jadi  tahu bagaimana perbedaan perempuan dan laki-laki dalam  memaknai  ketangguhan terhadap bencana dan iklim. Meskipun di dalam ruang kelas sudah kerap diajarkan, dan literatur yang  sama juga banyak mengamini, kami girang karena akhirnya  bisa mendapatkan bukti langsung di depan mata.  Perlu waktu sekitar dua jam menyeberang dengan kapal reguler dari Ambon untuk sampai ke Negeri Ameth. Negeri-setingkat desa-ini posisinya di Kecamatan Nusalaut dan termasuk dalam jajaran Kepulauan Lease, berhadap langsung dengan Laut Lepas Banda. Negeri yang sungguh elok  ini dihuni oleh 1.343 orang yang hidup guyub.  

IMG_5795_0.JPG
Musyawarah menentukan rencana aksi Negeri Allang dalam merespon risiko bencana dan iklim.

Peserta perempuan dalam musyawarah itu hanya usi-bahasa Ambon yang artinya panggilan untuk perempuan yang lebih muda atau nona-Seli dan Usi Astrid  Sejatinya,  tidak memenuhi kuota  afirmasi yang kami harapkan, yaitu sekitar 30% partisipasi perempuan dari jumlah total. Keduanya adalah ibu rumah tangga. Selebihnya, sekitar 20 perwakilan masyarakat bergender laki-laki.   Pertemuan tersebut melanjutkan seri diskusi sebelumnya dan masih termasuk dalam rangkaian pelaksanaan Kajian Risiko Bencana dan Dampak  Perubahan Iklim. 

Siang ini, tiga fasilitator, Bung Meike, Om Yosep  dan Om Andre bersungguh-sungguh memandu  usulan rencana  masyarakat bisa selesai disusun. Tujuan akhirnya  tentu mencapai ketangguhan terhadap ancaman bencana dan iklim.  Meskipun  tampak malu, Usi Seli dan Astrid  mengambil tempat di barisan bangku terdepan.   

Dari rangkuman hasil  penggalian informasi sebelumnya, diketahui bahwa Negeri Ameth menghadapi ancaman serius gelombang tinggi dan abrasi.  Dua ancaman ini menjadi prioritas untuk didorong  upaya adaptasinya.  Gelombang tinggi menimbulkan  rantai dampak cukup panjang.  Nelayan Ameth tidak bisa melaut, alat tangkap  seperti  perahu dan rumpon menjadi rusak.  Gelombang tinggi juga mengganggu lalu lintas tranportasi antar pulau. Akibatnya tidak hanya pada mobilitas masyarakat, tapi juga menghambat pasokan pangan. Selama ini, jenis pangan tertentu seperti sayuran, lebih banyak mengandalkan  dari sumber di luar Negeri Ameth.  Dalam kondisi normal, secara reguler penduduk Ameth membeli  sayuran dan jenis pangan lain  yang dibawa dari Ambon dan Masohi.  Gelombang  tinggi menyebabkan kapal feri  yang mengangkut dagangan  tidak dapat beroperasi. Selama itu pula, masyarakat   terpaksa  mengandalkan sumber pangan dari dalam negeri yang terbatas variasinya.  Dalam kondisi gelombang tinggi, pertumbuhan rumput laut yang jadi salah satu sumber andalan pendapata juga menjadi tergangg.  Selain itu, gelombang tinggi menyebabkan sejumlah rumah rusak. Rasa  tidak aman juga menyelemuti masyarakat selama gelombang tinggi.  

Sejumlah  peserta  laki-laki mengusulkan pembangunan talud penahan ombak, peninggian talud dan penanaman bakau. Usulan lain yang mengemuka adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui pengetahuan tradisional untuk membaca gejala alam yang menjadi penanda akan datangnya gelombang tinggi. Dalam istilah lokal, pengetahuan tradisional ini disebut Nanaku yang berarti pertanda atau menandai.  Contoh nanaku misalnya langit gelap di pagi hari yang menghalangi pandangan ke pulau seberang  menjadi pertanda  datangnya gelombang.  Kebutuhan akan informasi yang lebih awal mengenai cuaca juga diperlukan dari institusi resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika  (BMKG) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPBD). Masyarakat mengusulkan dibangunnya sistem untuk mengakses informasi tersebut.

Hampir saja suara perempuan terlewatkan. Dari  bangkunya dengan setengah tergagap Usi Seli mengusulkan pengadaan kebun sayur lokal. Di tengah usulan dari peserta  yang didominasi  laki-laki,  intonasi rendah suara Usi Seli merefleksikan bagaimana perempuan menerjemahkan bagaimana seharusnya mereka beradaptasi.   

Perempuan masih memegang peran terbesar dalam mengatur pemenuhan pangan keluarga. Karena lekat dengan tanggung jawab tersebut, cara pandang perempuan pun menjadi berbeda. Beradaptasi  bagi mereka adalah memastikan kebutuhan pangan keluarga bisa terus terjaga secara seimbang.   Gelombang tinggi tidak hanya memerlukan kesiapsiagaan akan informasi dan infrastruktur penahan gelombang, tetapi juga  yang  perlu disegerakan adalah tersedianya  pangan lokal secara kontinu . Kebun sayur, ide yang sekilas nampak sederhana namun memberi jawaban segera untuk beradaptasi.  

Menariknya, usulan “sederhana” tersebut akhirnya berkembang. Ide demi ide   sewarna bergulir. Jadilah usulan  untuk meningkatkan keterampilan perempuan untuk pengolahan pangan  memanfaatkan  potensi lokal tersuarakan dari forum yang bersahaja  di Balai Negeri. Diantaranya termasuk pengolahan sagu untuk kue kering  dan pengolahan hasil laut yang masih memungkinkan diperoleh.   

Mengutip bisik pelan Usi Seli ketika ditanyai alasannya “….. katong seng bisa beli sayur kalau feri seng datang.  Jadi beta pung usul  kebun sayur.” (Kami tidak bisa membeli sayur kalua feri tidak datang. Jadi saya punya usul untuk ada kebun sayur)

Di tengah udara lembab Ameth dan  sengat matahari yang  menggosongkan kulit, dalam kepolosan dan kesederhanaan yang melingkupi hidup warganya,  kami  menemukan bukti yang dicari. Terkadang hal-hal sederhana yang di depan mata tidak terlihat oleh kaca mata biasa. Suara perempuan yang bergelut dengan masalah sehari-hari dan merasakan dampak langsung dari bencana haruslah mengemuka dan didengar agar tahu bagaimana seharusnya  beradaptasi dan mulai dari hal kecil yang bisa dilakukan diri sendiri.


Ditulis oleh: Suryani Amin - Penasihat Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat dan Maun Kusnandar - Spesialis Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat