Meningkatkan Ketangguhan Masyarakat Teluk Kolono menghadapi Risiko Bencana dan Iklim

Ancaman bencana dan iklim kian nyata dan sudah di depan mata. Hal tersebut paling dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau kecil. Gelombang tinggi membuat nelayan kehilangan mata pencaharian, dan abrasi pantai mengikis pesisir serta berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil. Salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara yang berpotensi terancam adalah kawasan Teluk Kolono, Kabupaten Konawe Selatan. Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia mitra dari USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja meningkatkan ketangguhan masyarakat di tiga desa di area Teluk Kolono yaitu Desa Awunio, Desa Rumba-Rumba, dan Desa Batu Jaya.

Program ini bertujuan membangun ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana dan iklim melalui penyediaan data, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menghasilkan rencana pembangunan desa yang pro dan sensitif terhadap risiko bencana dan iklim. Program ini diimplementasikan secara terintegrasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program berbasis kelompok dan desa. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat memiliki sensitivitas terhadap risiko bencana dan iklim yang terjadi di lingkungan mereka. Tiga orang fasilitator lapangan dan staf program bekerja langsung di Teluk Kolono bersama masyarakat melalukan penilaian dan penyusunan rencana aksi  masyarakat.

Berdasarkan hasil penilaian kerentanan masyarakat di tiga desa tersebut, terdapat beberapa hal yang berhasil diidentifikasi dan perlu diantsipasi. Penilaian dilakukan berdasarkan tingkat dampak dan probabilitas. Dari sisi besarnya dampak, tiga desa di Teluk Kolono berisiko terkena banjir, gempa bumi, dan abrasi. Dari sisi probabilitas, angin kencang, gelombang tinggi, dan banjir rob berpotensi terjadi di tiga desa tersebut.

Salah satu aspek penting dalam ketangguhan masyarakat adalah kapasitas adaptasi yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Teluk Kolono memiliki sumber daya perikanan dan pertanian dan dibutuhkan pengelolaan yang terintegrasi antar sektor. Ketika potensi yang ada dapat dikelola dengan baik, maka kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan pada akhirnya kapasitas mereka dalam menghadapi risiko bencana dan iklim juga menjadi lebih baik.

Sayangnya, masih terdapat banyak tantangan untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam di Teluk Kolono. “Masyarakat di Desa Rumba-rumba menyatakan lima tahun lalu Teluk Kolono berjaya dengan budidaya rumput laut dan lobster. Namun akhirnya hal tersebut harus berhenti karena matinya lobster dan rumput laut,” kata Subhan, fasilitator DFW. Dibutuhkan pengecekan dan penelitian mendalam untuk mengetahui penyebab matinya rumput laut dan lobster tersebut apakah karena faktor alam seperti naiknya suhu air laut yang ekstrem, atau karena buangan limbah dari aktivitas di darat yang berdampak pada turunnya kualitas perairan Teluk Kolono.

DSC05032_resize_0.jpg
Perahu di area pesisir Desa Rumba-rumba saat surut. 

DFW Indonesia dan USAID APIK bekerja membantu masyarakat untuk menyusun dokumen perencanaan desa yaitu Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). “Nantinya kegiatan pemberdayaan pesisir akan menjadi prioritas rencana aksi, tentunya dengan mempertimbangkan jenis usaha yang dapat bertahan menghadapi risiko bencana dan iklim,” terang Laode Hardiani, fasilitator DFW Indonesia di Desa Awunio.


Ditulis oleh: Moh. Abdi Suhufan - Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch