Masyarakat dan Ketangguhan

Banjir dan kekeringan yang mengakibatkan kegagalan panen, longsor, dan curah hujan yang ekstrem merupakan bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini. Kejadian tersebut dipercepat dengan persoalan klasik yaitu kegagalan dalam penataan dan pengelolaan lingkungan masa lalu dan sekarang. Tumbuhnya gerakan-gerakan individu dalam beradaptasi lingkungan, khususnya dalam menghadapi perubahan iklim merupakan langkah pragmatis dan praktis. Pengalaman kemandirian individu-individu dalam masyarakat dalam berorganisasi dan beraktivitas pada lingkungan sekitar menjadi modal optimisme keberhasilan adaptasi perubahan iklim ini.

Antisipasi terhadap banjir dilakukan dengan pembuatan tanggul-tanggul, wilayah resapan, dan tangkapan air yang sekaligus menjadi ruang interaksi sosial, pengelolaan peruntukan dan penggunaan air tanah dan permukaan, serta meninggikan rumah-rumah yang selama ini terendam air bila terjadi banjir. Contoh-contoh antisipasi terhadap banjir tersebut adalah adaptasi yang dapat dilakukan secara individu dan kelompok masyarakat. Kepedulian terhadap dampak perubahan ini ditunjukkan oleh kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial dan dapat menjadi fasilitator untuk menjembatani persoalan pemahaman dan pendanaan.

Pemahaman tidak sebatas menyampaikan apa yang dimaksud dan mengapa perubahan iklim terjadi, namun juga memetakan anatomi sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim dalam sebuah kawasan atau wilayah. Kompleksitas persoalan pilihan akan sangat tergantung dari heterogenitas dan kepentingan individu-individu masyarakat setempat. Tentunya pilihan-pilihan adaptasi individu-individu tadi berkorelasi dengan kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan masyarakat sebagai wujud ketahanan sumber kehidupan ekonomi mereka dalam menghadapi ancaman variabilitas dan perubahan iklim.

Esensi keterlibatan langsung individu-individu dalam masyarakat akan mampu membangun dan mempengaruhi warna dari rumusan dan perdebatan strategi adaptasi perubahan iklim. Dari pendidikan publik akan berbalik menjadi pendidikan kepada para pengambil kebijakan, para elit politik dan pemerhati lingkungan yang cenderung terjebak pada perdebatan semata. Nilai-nilai dari pengetahuan lokal yang masih kental dan berlaku di beberapa daerah, khususnya dalam memperlakukan lingkungan dan ekosistemnya sebagai bagian dari nilai-nilai hidup mereka dapat menjadi perekat dan memperkaya strategi adaptasi masyarakat yang dikembangkan dalam mengatasi perubahan iklim. Banyak contoh ketika pengetahuan lokal membantu masyarakat pesisir dalam menghadapi kenaikan permukaan air laut yang mengancam keberadaan rumah-rumah panggung dan rumah terapung. Hal yang serupa pernah dan masih ada dimiliki oleh beberapa wilayah di Indonesia walau terancam dengan pola pembangunan saat ini.

Persoalan dampak perubahan iklim adalah persoalan ancaman pembangunan, secara mikro ketahanan perekonomian masyarakat menjadi pertaruhan dari rendah dan tingginya tingkat kerentanan. Dampak yang ditimbulkan akan bergeser pada tingkat ekonomi makro negara. Adaptasi masyarakat yang dilakukan merupakan bagian dari ketahanan ekonomi secara makro. Oleh sebab itu, kapasitas adaptasi yang mutlak diberikan ruang pada saat upaya negosiasi dan perumusan kebijakan di tingkat nasional tengah dilakukan secara hati-hati dan perlahan. Namun satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah bahwa bencana akibat iklim sedang terjadi.


Ditulis oleh: Ari Mochamad