Labu Siam, Komoditas Potensial di Tulungrejo

Kota Batu, Malang sedari dulu terkenal sebagai penghasil buah dan sayur. Salah satu komoditas yang menjadi favorit petani di kota ini termasuk di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji adalah apel. Namun dalam beberapa tahun belakangan, petani merasa budi daya apel semakin memberatkan. Selain memanasnya suhu rata-rata akibat cuaca ekstrem, petani terkendala biaya produksi dan risiko gagal panen akibat penyakit yang kian tinggi. Hal serupa dialami Kamto, petani berusia 61 tahun asal Desa Tulungrejo yang mengaku produksi apelnya semakin menurun.

Melihat kondisi ini, sejak bulan Maret 2018, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Pusat Kajian Teknologi Terapan (PKTT) Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA), Malang untuk mengembangkan labu siam (Sechium edule) sebagai tanaman alternatif bagi petani. Labu siam atau yang disebut ‘gondes’, ‘blundru’, atau ‘manisah’ dalam bahasa lokal memiliki tingkat permintaan pasar yang cukup stabil, perawatan yang mudah. Selain itu labu siam juga berfungsi melestarikan tanah dan mencegah erosi yang dapat menyebabkan longsor. Labu siam ini pun dibudidayakan tanpa pestisida dan herbisida sehingga lebih menyehatkan dan baik untuk lingkungan.

Kamto mengaku awalnya ia hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya pun malu menanam labu siam karena bukan komoditas bergengsi,” katanya. Kini Kamto menanam labu siam di pekarangannya seluas 600 meter persegi. Bahkan ia sudah berencana untuk mengembangkan labu siam di lahan lainnya, termasuk di kebun milik anaknya. Kamto menyambut gembira pengembangan tanaman labu siam karena selain menguntungkan secara ekonomis, juga mencegah erosi. Labu siam dibudidayakan dengan media para-para, yang kurang dari dua bulan sudah membentuk kanopi, sehingga mencegah jatuhnya air hujan secara langsung ke tanah yang dapat menyebabkan erosi.

Dalam sekali panen, lahan Kamto dapat menghasilkan hingga 160 kilogram labu siam. Dengan harga jual berkisar Rp 1.500–2.000 per kilogram, Kamto mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp 3,2 juta setiap bulannya. Angka ini terus meningkat seiring semakin bertambahnya jumlah produksi setiap bulannya.

“Saat ini modal produksi sudah kembali dan saya dapat menerima penghasilan tambahan selama empat tahun ke depan, sebelum labu siam ini berhenti berbuah,” Sukamto menjelaskan. Dengan keuntungan yang menjanjikan tiap bulannya, banyak petani yang mengikuti jejak Sukamto. Beberapa di antaranya bahkan sudah membuat para-para tempat tumbuh labu siam, sehingga bukan mustahil labu siam akan menjadi primadona baru di desa ini.

Ditulis oleh: Panjitresna Prawiradiputra