Berdaya lewat Kelompok Tani

Tak jauh dari Kota Batu, Malang, Jawa Timur tersebutlah Desa Sumberbrantas. Berada di kaki Gunung Arjuna dan Welirang, Desa Sumberbrantas memiliki tanah subur yang sebagian besar digunakan sebagai lahan pertanian. Sayur-mayur seperti wortel, kentang, brokoli, bawang putih, paprika, sawi adalah komoditas unggulan masyarakat. Di desa ini, sebagaimana juga banyak desa di Indonesia, aktifitas bertani tak hanya lekat dengan laki-laki, namun juga dilakukan oleh perempuan. Para perempuan biasanya bertugas memasukkan benih ke lubang tanam, menebar pupuk, mencabuti gulma, hingga menyortir hasil panen. Di Sumberbrantas, tepatnya di Dusun Jurang Kuali, para perempuan petani mengorganisasi diri dengan membentuk kelompok wanita tani (KWT).

Berdiri sejak Desember 2012, KWT Berkah Mandiri berawal dari kegiatan berkumpul yang berkembang dengan dukungan program pertanian dari pemerintah kota. Menurut Arik Handayani, salah satu pengurus KWT Berkah Mandiri, kegiatan kumpul-kumpul menjadi serius karena menyadari bahwa daerahnya banyak menghasilkan komoditas pertanian. Para ibu pun lalu mencoba membudidayakan dan mengolah, sehingga perempuan memiliki keterampilan tambahan.
KWT Berkah Mandiri memiliki rumah kaca yang terletak di lahan salah satu anggota. Di sana, kelompok menanam terung belanda (tamarillo) dan mengembangkan bibit tamarillo, sawi, bawang merah, dan brokoli. “Biasanya kita tanam dan buat bibit untuk kebutuhan sendiri dulu, dan untuk tukar-tukaran juga, saya punya apa, terus tukaran dengan ibu-ibu lain yang ngga punya, dan sebaliknya. Kami juga beberapa kali menerima pesanan benih, misalnya waktu itu ada yang pesan 10.000 benih, per benihnya kami jual Rp 150 untuk brokoli, dan Rp 100 untuk sawi,” kata Anik Martini, ketua KWT Berkah Mandiri. Walau belum rutin menerima pesanan, namun penyediaan benih dan bibit berpotensi untuk menambah pendapatan kelompok.

Tak hanya itu, anggota KWT menanami pekarangan dengan berbagai sayur dan tanaman bumbu dapur, yang dapat dipakai untuk kebutuhan sendiri, sehingga pengeluaran belanja bisa dihemat. KWT Berkah Mandiri juga memproduksi olahan seperti sirup tamarillo, sirup wortel, keripik wortel, dan nugget sayur yang seluruhnya dibuat tanpa pengawet. Warga sekitar biasa memesan hasil-hasil olahan ini.
Berawal dari 15 orang, kini KWT Berkah Mandiri mewadahi 50 anggota dari beragam usia dan telah resmi berbadan hukum. Pemerintah seperti Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Batu kerap mendampingi kelompok. Di tahun 2018, Dinas Ketahanan Pangan menganggarkan bantuan dalam bentuk peralatan untuk mengolah makanan seperti blender, mixer, dan alat pemanggang. Menurut Dinas Ketahanan Pangan Kota Batu, urusan pangan selama ini lebih didominasi oleh pendapat laki-laki, meskipun pengolahan pangan lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Inisiatif ini merupakan contoh nyata tentang bagaimana Dinas Ketahanan Pangan mampu menangkap situasi kesenjangan yang ada dalam masyarakat.

Menyadari potensi KWT Berkah Mandiri dalam meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kota Batu menggelar serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas tentang pertanian organik. Kegiatan dilakukan selama Januari–Agustus 2018 dengan melibatkan Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman, Mojokerto, dengan topik mencakup teknik budi daya, penguatan kelembagaan, penyusunan rencana pemasaran, proses sertifikasi organik, hingga pengolahan produk. Topik pertanian organik sangat diminati oleh kelompok karena para ibu menyadari sayur organik baik untuk kesehatan keluarga, dan juga permintaan pasarnya cukup tinggi seiring dengan berkembangnya pariwisata di Kota Batu.

Di Desa Sumberbrantas sendiri, dampak perubahan iklim telah dirasakan oleh warga. Cuaca kian tak menentu, dan kalender musim pun mulai bergeser sehingga mengancam produksi panen. Melalui program pendampingan kelompok, USAID APIK berharap dapat memperkuat ketangguhan ekonomi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian usaha tani.
Bagi Bu Arik dan Bu Anik, KWT Berkah Mandiri adalah wadah pemberdayaan perempuan. Banyak manfaat yang diperolehnya dengan tergabung dalam KWT Berkah Mandiri. “Yang pasti ilmu bertambah. Kami juga senang sekali melihat ibu-ibu saling berbagi ilmu, ngerti macam-macam, bisa pintar bikin olahan, dan bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Misalnya dulu bawang harus beli, sekarang bisa pakai hasil kebun sendiri. Lalu dari hasil usaha kelompok ada penghasilan tambahan, walau memang belum besar,” ungkap mereka.

Keberadaaan KWT Berkah Mandiri mendapat dukungan penuh dari masyarakat desa. Menurut Bu Anik, kelompok tani lain yang rata-rata didominasi laki-laki tak segan berbagi ilmu. Kelompok pun berharap untuk terus mengembangkan keterampilan, sehingga cita-cita untuk menjadi produsen sayur dan olahan organik dapat segera terwujud.