Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana baik geofisik maupun hidrometeorologi, dan perubahan iklim telah lebih jauh menambah risiko akan terjadinya bencana. Tingkat kematian di Indonesia dan indicator kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bencana telah meroket selama sepuluh tahun terakhir jika dibandingkan dengan periode 1993-2002. Hal ini berkebalikan dengan negara-negara lain di Asia yang juga menghadapi risiko tinggi seperti Bangladesh, Cina, India, dan Filipina namun justru angkanya malah menurun. 1 Melihat ke depan, Asia Development Bank memperkirakan kerugian ekonomi yang disebabkan perubahan iklim di Indonesia bisa mencapai 2.5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2100, dan ketika bencana karena perubahan iklim ikut dihitung, kerugian ekonomi bisa mencapai 7% dari PDB. 2

 

Bencana Alam dan Hidrometeorologi di Indonesia

Icon APIK-27_0.png

Tren terkini di Indonesia mengindikasikan bencana hidrometeorologi melampaui bencana geofisik dalam hal tingkat kejadian, korban jiwa, dan kerusakan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 87% dari semua bencana yang terjadi antara tahun 1982–2012 merupakan bencana hidrometeorologi dalam bentuk banjir (38%), longsor (18%), angin topan (18%), kekeringan (13%), dan gelombang pasang (<1%), yang jika ditotal telah memakan 14,000 korban jiwa. 3 Sebagai tambahan, dari 2004 hingga 2013, kerugian ekonomi yang disebabkan bencana di Indonesia mencapai 11.5 milyar dolar.4 Namun kenyataannya, bencana hidrometeorologi mendapatkan perhatian yang lebih sedikit dibandingkan dengan bencana geofisik dalam upaya pengurangan risiko bencana (PRB).

Tekanan dan Dampak Iklim di Indonesia

Pencapaian pembangunan ekonomi dan masyarakat Indonesia bergantung pada hal-hal seperti cukupnya suplai dan kualitas air, tanah yang sehat, bibit yang produktif, perikanan yang sehat, ekosistem yang berfungsi, infrastruktur yang mumpuni, informasi yang aktual dan berguna, tata kelola pemerintahan yang efektif, dan lain-lain. Kebanyakan dari hal-hal tersebut bergantung pada tekanan iklim dan non-iklim. Tekanan non-iklim seperti polusi air permukaan karena sistem sanitasi yang tidak baik dan kurangnya pengelolaan air industry; berkurangnya resapan air tanah dan turunnya permukaan karena penggunaan air tanah yang berlebihan; erosi tanah dan sedimentasi saluran air karena buruknya praktik penggunaan lahan termasuk deforestasi; infrastruktur yang tidak dirawat; ekstraksi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan; dan urbanisasi cepat dan tidak terencana.

Selain hal tersebut dan tekanan non-iklim lainnya, perubahan iklim mengancam pencapaian Indonesia dalam tujuan pembangunan:

  • Permukaan air laut meningkat dengan laju 7mm/ tahun dari 1993 – 2008. Laju tersebut lebih cepat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada 2060, diantisipasi kenaikan air laut mencapai 50cm.5
  • Pola hujan yang berubah, dengan perubahan iklim yang diprediksi menyebabkan 2% hingga 3% hujan yang lebih banyak per tahun, dengan musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek dan lebih intens.6
  • Frekuensi El Nino diperkirakan semakin meningkat, dari interval setiap 3 hingga 7 tahun menjadi 2 hingga 3 tahun sekali. Fenomena El Nino dan La Nina telah diketahui berdampak pada variasi hujan, dan juga mempengaruhi permukaan air laut dan cuaca laut yang menyebabkan gelomban ekstrem hingga 5 meter.7
  • Kekeringan semakin sering. Antara tahun 1844 hingga 1960, secara rata-rata kekeringan di Indonesia terjadi setiap empat tahun sekali. Namun antara 1961 dan 2006, kekeringan terjadi setiap tiga tahun.8

Masyarakat miskin seringkali adalah pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim, baik karena mereka tinggal di area seperti bantaran sungai, area yang terdeforestasi, dataran banjir. Selain itu mungkin juga disebabkan karena mereka memang memiliki kapasitas adaptif yang rendah karena kurangnya pendidikan, sumber finansial, sumber daya fisik, dan/ atau dukungan pemerintah. Estimasi terkini, diperkirakan 32 juta dari total 234 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dan sekitar setengah dari keluarga Indonesia termasuk dalam kelompok yang hidup di garis kemiskinan.9 Hal ini berarti banyak masyarakat Indonesia yang tergolong sangat rentan dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi.10


1 World Bank, 2005. Natural Disaster Hotspots, A Global Risk Analysis. Washington, DC: Disaster Risk Management Series. 
2 Asian Development Bank, 2009. The Economics of Climate Change in South East Asia: A Regional Review.
3 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) 2015-2019. 
4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) 2015-2019. 
5 Ministry of Environment, 2007a. Indonesia CountryReport, Climate Variability and Climate Changes and Their Implication. 
6 Ratag, M., 2007. Perubahan Iklim: Perubahan variasi curah hujan, cuaca dan iklim ekstrim. BMKG.
7 Bappenas, 2010b. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR); Synthesis Report. 
8 Ministry of Environment, 2007a. Indonesia Country Report, Climate Variability and Climate Changes and Their Implication. 
9 World Bank, 2014. Indonesia Overview:  http://www.worldbank.org/en/country/indonesia/overview.
10 IPCC, 2013. Summary for Policymakers.