Petani Nangananga dan Tahun Ajaran Baru

Kabarkendari.com – 14 Mei 2017 silam menjadi salah satu hari terkelam dalam perjalanan hidup Ridwan. Saat itu, petani berusia 32 tahun ini harus merelakan sepetak sawahnya gagal panen usai diterjang banjir. Banjir itu pula yang merenggut nyawa putra bungsunya, Muhammad Afiq, yang baru berusia 21 bulan.

Penyimpangan cuaca menyebabkan petani lulusan Sekolah Dasar ini tak mampu lagi memprediksi cuaca. Pengetahuan tentang cuaca yang selama ini diwariskan nenek moyangnya mentah. Ia kehabisan akal. Ridwan hampir saja kalah.

“Dulu kita bisa tahu kapan mau masuk musim hujan. Kapan mau menanam. Sekarang tidak bisa lagi. Kebiasaan orang tua kita dulu sudah tidak berlaku lagi,” ujar suami dari Juliana ini.

Kerisauan Ridwan juga dirasakan Arif dan sejumlah petani padi sawah lainnya di kawasan Nangananga, Kelurahan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Menurut Arif, selain ancaman banjir dan kekeringan, mereka juga kerap diintai hama berupa tikus dalam populasi tak terkendali.

“Sekarang masa tanam agak cepat. Biasanya masa tanam dilakukan pada bulan Agustus. Tapi karena hujan masih turun di bulan Juli ini, maka kami sudah mulai menanam. Sebelum ini sudah dua kali kami menyemai bibit tetapi mati karena kering ,” katanya, Sabtu 15 Juli 2017.

Setampuk asa kini kembali menggelantung di depan mata Ridwan. Ia menatap lekat sebuah bangunan sekolah yang berdiri diatas sepetak lahan sawah. Di Sekolah berbentuk saung ini, ia bertekat menghapus kenangan pahit tragedi Mei 2017 silam. Bersama 30 petani lainnya, Ridwan akan menjadi menjadi siswa di sekolah ini. Sekolah Lapang Iklim Pertanian.

Sekolah Lapang Iklim Pertanian memang khusus di peruntukkan bagi para petani di kawasan Nangananga. Sekolah ini diinisiasi dan difasilitasi oleh program USAID-APIK regional Sultra. Sebuah program yang didanai pemerintah Amerika Serikat dengan fokus isu Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan. Program ini mendapat dukungan penuh Pemerintah Kota Kendari.

Untuk mensukseskan sekolah ini, USAID-APIK Sultra menggandeng sejumlah pihak terkait seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sultra, Dinas Pertanian Kota Kendari dan Dinas Pertanian Provinsi Sultra yang akan berperan sebagai tenaga pengajar.

Regional Manager APIK Sultra, Buttu Ma’dika, mengatakan pemilihan kawasan Nangananga sebagai lokasi pendirian Sekolah Lapang Iklim Pertanian karena kawasan ini paling rentan resiko perubahan iklim. Nyaris setiap tahun kawasan ini terdampak bencana banjir maupun kekeringan.

“Kita harus segera beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah nyata dirasakan dampaknya. Pemanfaatan teknologi dan penggunaan informasi cuaca dan iklim yang optimal akan membantu meningkatkan ketangguhan petani yang berperan penting dalam ketahanan pangan,” katanya sesaat setelah seremoni pembukaan sekolah iklim tersebut.

“Sekolah Lapang Iklim di Baruga ini tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman petani mengenai iklim tetapi lebih jauh diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Aris Yunata, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ranomeeto.

Selain belajar pengetahuan teoritis mengenai iklim, di sekolah yang akan berlangsung selama satu musim tanam ini (tiga bulan), para petani juga akan mengikuti praktikum pengamatan iklim.

Termasuk tata cara membaca beberapa alat ukur cuaca seperti Sangkar Meteorologi dan Penangkar hujan. Kedua alat ini telah dipasang di tengah-tengah kawasan hamparan persawahan seluas 600 hektar tersebut.

“Saya senang sekali. Sebenarnya banyak yang mau ikut sekolah. Tapi karena terbatas, tujuh kelompok tani di Nangananga mengirim perwakilannya saja. Kita mau sekolah lagi,” katanya terkekeh.

Kentongan telah dibunyikan. Pertanda hari pertama belajar di Sekolah Perubahan Iklim Pertanian telah dimulai. Ridwan, Arif dan puluhan petani lainnya berdesakan mencari tempat duduk. Senyum sumringah menghiasi wajah mereka.

Adapula yang nampak malu-malu, seumpama anak-anak mereka yang baru memasuki tahun ajaran baru di sekolah yang baru.

Disini, di sekolah ini, para petani Nangananga menggantungkan harapan untuk membuang segumpal sesak yang telah lama menghimpit dada. Serta segala macam ketakutan akan dampak perubahan iklim yang telah menghianati ajaran warisan nenek moyang mereka.

Penulis: Zainal A. Ishaq


Artikel ini diambil dari Kabar Kendari.