Throwback to Building Resilience Efforts in 2017

Year of 2017 have passed. Let's throwback to what have USAID APIK and partners achieved so far in efforts to improve resiience towards climate and disaster risks in Indonesia. 

*We deeply apologize this article is currently only available in Bahasa Indonesia.

Di bulan Maret, USAID APIK memperingati Hari Perempuan Internasional dengan mengadakan diskusi interaktif membahas perempuan pesisir yang semakin rentan terhadap risiko bencana dan iklim karena tidak dapat mengakses program bantuan dan pembangunan.

Bulan berikutnya, sebanyak 238 murid SD dan SMP dari 24 sekolah berpartisipasi dalam kegiatan Kemah Raya Pengurangan Risiko Bencana di Kota Batu. Bekerja sama dengan BPBD dan PMI, USAID APIK menanamkan kesiapsiagaan sejak dini dan berbagi keterampilan mengelola risiko bencana serta meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya meningkatkan ketangguhan.

Pada bulan Mei 2017, USAID APIK bekerja sama dengan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya menyelenggarakan pelatihan untuk nelayan dari Kabupaten Sidoarjo, Malang, dan Blitar. Sebagai hasilnya, nelayan kini dapat memahami dan mengakses ikan dan menyebarkan ilmu yang didapat kepada kelompok nelayan di masing-masing wilayahnya.

Kemudian, USAID APIK bekerja sama dengan BMKG di bulan Juni untuk mengadakan kompetisi desain penakar hujan otomatis atau yang biasa dikenal dengan Automatic Rain Gauge (ARG). Penakar hujan otomatis merupakan salah satu komponen dalam sistem peringatan dini bencana baik banjir maupun longsor. Kompetisi ini diikuti 31 peserta komunitas pembuat dan inovator.

Di bulan Oktober, 30 petani peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Baruga, Kota Kendari memanen padi yang ditanam dengan ilmu cuaca dan iklim dan pertanian berkelanjutan. Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, Wakil Walikota Kendari turut hadir pula dalam panen raya SLI. SLI merupakan inisiatif BMKG untuk memastikan masyarakat dapat mengakses informasi cuaca dan iklim yang berguna bagi kehidupan dan penghidupan mereka.

Lalu, Pelaksana Direktur Misi USAID Indonesia, Ryan Washburn secara resmi menyerahkan dokumen studi dan kajian kerentanan dan penilaian ketangguhan kepada Wakil Gubernur Maluku, Pemerintah Kota Ambon, Wakil Bupati Maluku Tengah, dan Wakil Bupati Kepalauan Aru di bulan November. Berbagai studi dan kajian tersebut sangat penting untuk menjadi dasar penyusunan perencanaan pembangunan yang responsif bencana dan iklim.

Di penghujung tahun, sektor bisnis berkomitmen untuk ikut serta dalam aksi membangun ketangguhan. Bank Sultra, PT Asuransi Central Asia (ACA), Sygenta Indonesia, dan USAID APIK menandatangani nota kesepahaman untuk berkolaborasi mendukung pertanian berkelanjutan yang responsif terhadap cuaca dan iklim agar petani jagung di Konawe Selatan semakin tangguh, sejahtera, dan menghindari kemungkinan gagal panen.

USAID APIK mengucapkan terima kasih kepada semua mitra yang telah bersama dengan kami dalam perjalanan membangun ketangguhan di tahun 2017. Mari kita terus bekerja lebih baik lagi di tahun 2018 ini untuk Indonesia yang lebih tangguh menghadapi risiko bencana dan iklim.