Together Fighting Gender Based Violance

*We deeply apologize this article is only available in Bahasa Indonesia.

“Di salah satu lokasi kerja kami, Jawa Timur, ada lokasi yang sulit air. Untuk kebutuhan sehari-hari keluarga, perempuan harus mendapatkannya di lokasi yang jauh dari rumah,” ungkap R. Anindhito, salah satu staf APIK Jakarta.

Bulan lalu, USAID APIK mengundang Prof. Nina Nurmila, PhD, Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan untuk berbagi pengetahuan dengan tim APIK Jakarta mengenai kekerasan berbasis gender. Acara diskusi sehari ini diadakan pada tanggal 6 Juni di kantor APIK yang dihadiri seluruh tim APIK yang bertugas di Jakarta. Materi mencakup pemahaman akan gender, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan gender, indikator keadilan dan ketidakadilan gender, kekerasan berbasis gender (gender based violence atau GBV), dan upaya pemerintah untuk mencapai keadilan.

*We deeply apologize this article is only available in Bahasa Indonesia.

Materi dimulai dengan belajar tentang definisi gender dan apa yang membedakannya dengan seks atau apa yang disebut Prof. Nina Nurmila, PhD sebagai kodrat. Kodrat adalah karakter fisik-biologis saat manusia lahir. Manusia lahir dengan ciri fisik-biologis tertentu. Sedangkan gender adalah karakteristik yang dibentuk secara sosial-budaya. Faktor-faktor pembentuk gender bisa berasal dari agama, budaya, media, aturan negara, proses pendidikan keluarga maupun di luar keluarga, dan sistem ekonomi setempat. Berangkat dari definisi gender yang merupakan konstruksi sosial-budaya, staf APIK juga diajak untuk mengenali keberagaman gender yang ada di Nusantara. Prof Nina Nurmila, PhD memaparkan bahwa gender bukan hanya perempuan atau laki-laki saja, tetapi ada gender lainnya.

Setelah memaparkan mengenai konsep dasar gender, Prof. Nina melanjutkan ke materi pokok yaitu kekerasan berbasis gender. Idealnya, keadilan gender dicapai ketika laki-laki, perempuan maupun gender lainnya mendapatkan akses, kontrol (misalnya kontrol akan tubuh maupun penghasilan), partisipasi, dan manfaat yang adil/setara. Namun, faktanya tidak, ketidakadilan dapat terjadi. Diskriminasi, subordinasi, marjinalisasi, multiple burdens atau lebih dikenal sebagai beban ganda, dan kekerasan adalah bentuk-bentuk ketidakadilan gender. GBV dapat terjadi terhadap seseorang karena identitas gendernya, misalnya sebagai perempuan atau trans*. Yang menjadi korban GBV pada umumnya adalah kelompok rentan yang dilemahkan oleh pelaku yang secara sosial diposisikan lebih tinggi atau dominan. GBV dapat berbentuk fisik, psikologis, seksual, dan penelantaran ekonomi.

USAID APIK sendiri sudah mempunyai prosedur untuk menangani GBV. Selain itu APIK menyediakan nomor hotline dan prosedur sumber daya manusia yang terintegritas untuk menangani mencegah dan menangani GBV. Pemerintah Indonesia sendiri telah memiliki mekanisme untuk menangani tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tindak kekerasan dapat dilaporkan pada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di kepolisian setempat atau dapat menghubungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Informasi tentang P2TP2A di tiap provinsi dapat diunduh pada laman berikut: https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/view/58

Selain itu, informasi tentang layanan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat diakses dengan mengunduh aplikasi HELP yang berbasis Android. Aplikasi ini menyediakan akses informasi untuk mencari bantuan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

Kelas pun ditutup dengan foto bersama dengan Prof. Nina.

Yuk, sama-sama menolak kekerasan berbasis gender dan jangan takut untuk membantu korban!